Senin, 03/08/2026 14:09 WIB

Jaringan Listrik Kolaps Lagi, Kuba Dilanda Pemadaman Total Nasional





Jaringan listrik Kuba kembali mengalami kegagalan fungsi yang memicu pemadaman listrik total (blackout) di seluruh kawasan nasional.

Seorang pria mengendarai sepedanya di jalanan saat terjadi pemadaman listrik di Havana pada 1 Agustus 2026 (Foto: AFP)

Jakarta, Jurnas.com - Jaringan listrik Kuba kembali mengalami kegagalan fungsi pada Minggu (2/8), memicu pemadaman listrik total (blackout) di seluruh kawasan nasional.

Saat aliran listrik tiba-tiba terputus di seluruh Havana, warga yang sedang duduk di luar rumah untuk meredakan sengatan panas musim kemarau terdengar mengeluh secara serentak.

Kuba terus menderita pemadaman listrik bergilir akibat uzurnya peralatan pembangkit serta tekanan embargo energi Amerika Serikat yang menghentikan pengiriman bahan bakar secara teratur untuk stasiun pembangkit listrik.

Perusahaan listrik milik negara, UNE, menyatakan terjadi "pemutusan total" pada sistem kelistrikan nasional, yang membuat seluruh negeri—termasuk ibu kota—Seketika gelap gulita.

Insiden ini merupakan yang terbaru dari serangkaian kelumpuhan total pada jaringan listrik negara tersebut. Baru 24 jam sebelumnya, seluruh wilayah barat negara itu juga sempat mengalami pemadaman total.

Krisis listrik telah membuat kehidupan normal masyarakat hampir tidak mungkin dijalankan. Setiap pemadaman juga berdampak pada terhentinya pasokan air bersih serta berhentinya kipas angin gantung.

Kondisi ini menjadi tekanan yang kian berat bagi masyarakat yang sebenarnya terbiasa dengan kesulitan hidup, namun kini terjebak dalam krisis berkepanjangan selama berbulan-bulan tanpa kejelasan akhir.

Warga di wilayah yang terdampak paling parah meluapkan frustrasi mereka dengan membakar tumpukan sampah hingga memukul-mukul panci dan wajan di jalanan.

Sementara itu, Kementerian Energi Kuba menyatakan bahwa protokol untuk mengaktifkan kembali jaringan listrik nasional saat ini sedang berjalan.

Sebelumnya, Washington hanya mengizinkan kedatangan satu kapal tanker asal Rusia yang membawa 100.000 ton minyak mentah pada Maret lalu. Namun, cadangan bahan bakar tersebut kini telah habis total.

Selain menerapkan blokade minyak, pemerintahan Donald Trump juga meningkatkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan milik negara Kuba, yang memicu banyak perusahaan asing menghentikan operasinya di negara tersebut.

Amerika Serikat juga telah mendakwa mantan presiden Raul Castro, saudara dari pemimpin revolusi Fidel Castro, atas penembakan jatuh dua pesawat sipil tiga dekade lalu.

Di sisi lain, proses pembicaraan diplomatik antara Havana dan Washington tampaknya tidak membuahkan hasil signifikan. Sebagai langkah antisipasi internal, pemerintah Havana telah menerapkan serangkaian reformasi pasar bebas untuk memberi dorongan bagi perekonomian negara.

Sumber: Arabnews

KEYWORD :

Krisis Kuba Embargo Amerika Listrik Kuba




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :