Kamis, 30/07/2026 01:08 WIB

Jangan Anggap Sepele, Panas dan Dingin Ekstrem Bisa Memicu Serangan Jantung





Cuaca ekstrem tidak hanya membuat tubuh terasa tidak nyaman, tetapi juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, gagal jantung, hingga kematian

Ilustrasi serangan jantung (Foto: Pexels: Freestocks)

Jakarta, Jurnas.com - Cuaca ekstrem tidak hanya membuat tubuh terasa tidak nyaman, tetapi juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, gagal jantung, hingga kematian jantung mendadak. Temuan ini diungkap dalam pernyataan ilmiah terbaru dari American Heart Association (AHA) yang dipublikasikan dalam jurnal Circulation.

Laporan tersebut menegaskan bahwa suhu yang terlalu panas maupun terlalu dingin memberi tekanan besar pada sistem kardiovaskular. Dampaknya paling berbahaya bagi orang yang memiliki penyakit jantung, lansia, ibu hamil, bayi, pekerja luar ruangan, hingga masyarakat yang tinggal di lingkungan minim pepohonan dan pendingin udara.

Dikutip dari Earth, secara global, sekitar 9,4 persen kematian dikaitkan dengan suhu yang tidak optimal, baik karena panas maupun dingin.

Saat cuaca sangat panas, tubuh berusaha menurunkan suhu dengan melebarkan pembuluh darah dan mengeluarkan keringat. Proses ini membuat tekanan darah turun, cairan tubuh berkurang, sementara jantung harus bekerja lebih keras untuk menjaga aliran darah tetap stabil.

Bagi penderita penyakit jantung, kondisi tersebut dapat menjadi pemicu serangan jantung. Risiko semakin meningkat pada pasien yang mengonsumsi obat diuretik karena obat tersebut mempercepat hilangnya cairan tubuh.

Tinjauan terhadap lebih dari 400 penelitian menunjukkan bahwa setiap kenaikan suhu inti tubuh sebesar 1 derajat Celsius dapat meningkatkan denyut jantung sekitar 26 kali per menit. Pada saat yang sama, jumlah darah yang dipompa jantung meningkat sekitar 1 liter per menit, sehingga beban kerja organ tersebut menjadi jauh lebih berat.

Sebaliknya, cuaca dingin juga membawa ancaman serius. Saat suhu turun drastis, pembuluh darah menyempit, tekanan darah meningkat, dan darah menjadi lebih kental sehingga lebih sulit mengalir.

Kondisi ini menjelaskan mengapa aktivitas berat seperti menyekop salju sering memicu serangan jantung pada orang lanjut usia atau mereka yang memiliki gangguan kardiovaskular.

Selama beberapa dekade, cuaca dingin memang menyebabkan lebih banyak kematian akibat penyakit jantung dibandingkan cuaca panas karena frekuensinya lebih sering terjadi. Penelitian di 32 negara menunjukkan dingin berkaitan dengan 8,2 persen kematian akibat penyakit kardiovaskular, sedangkan panas sekitar 0,7 persen.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa kondisi tersebut mulai berubah. Gelombang panas kini terjadi lebih sering, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang semakin tinggi akibat perubahan iklim.

Tahun 2024 bahkan tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern, dengan suhu rata-rata global mencapai sekitar 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.

"Ketika gelombang panas semakin sering terjadi, diperlukan langkah terpadu dalam penelitian, praktik klinis, dan kebijakan agar masyarakat dapat terlindungi," kata Dr. Arnab Ghosh, Associate Professor of Medicine di Weill Cornell Medicine yang memimpin bagian kebijakan dalam laporan tersebut.

Peneliti juga menyoroti masih minimnya informasi mengenai pengaruh suhu ekstrem terhadap efektivitas obat-obatan jantung.

"Saat suhu mencapai sekitar 38 derajat Celsius, haruskah dosis obat pasien disesuaikan? Saat ini kami belum memiliki jawabannya," ujar Ghosh.

Selain itu, lingkungan tempat tinggal juga berperan besar dalam menentukan tingkat risiko. Kawasan perkotaan yang minim ruang hijau, banyak permukaan beton, dan memiliki sedikit pepohonan cenderung menciptakan fenomena pulau panas perkotaan (urban heat island) sehingga suhu terasa jauh lebih tinggi.

Untuk mengurangi risiko tersebut, para peneliti mendorong pembangunan kota yang lebih ramah iklim, seperti memperbanyak pepohonan, menyediakan pusat pendinginan bagi masyarakat, serta memastikan akses terhadap pendingin ruangan tetap terjangkau.

Menurut Ghosh, penanaman pohon tidak sekadar soal jumlah, melainkan bagaimana membangun kanopi hijau yang rapat di sekitar rumah, jalan, dan ruang publik agar mampu menurunkan suhu secara efektif.

Para penulis menegaskan ancaman cuaca ekstrem bukan lagi persoalan masa depan, melainkan sudah terjadi saat ini. Peningkatan jumlah pasien penyakit jantung selama gelombang panas menjadi bukti bahwa perubahan iklim telah membawa dampak nyata terhadap kesehatan.

"Gelombang panas adalah masalah yang sedang terjadi sekarang. Kita tidak bisa menunggu lebih lama. Dibutuhkan solusi yang lebih kreatif untuk melindungi masyarakat," tutup Ghosh. (*)

KEYWORD :

Cuaca Ekstrem Serangan Jantung Panas Ekstrem Dingin Ekstrem




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :