Dampak fenomena El Nino (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - El Nino kini menunjukkan kekuatan yang belum pernah terlihat dalam catatan 1.000 tahun terakhir. Temuan tersebut diperoleh dari penelitian yang menggunakan rekaman suhu laut yang tersimpan dalam kerangka karang di Kepulauan Galapagos, Ekuador.
Penelitian yang dipimpin Julia Cole, Ketua Department of Earth and Environmental Sciences di University of Michigan, menunjukkan variabilitas El Nino di Pasifik timur pada masa modern sekitar 36,5 persen lebih kuat dibandingkan periode sebelum era industri.
Angka tersebut memiliki ketidakpastian sekitar 8 poin persentase pada masing-masing inti karang.
Dikutip dari Earth, temuan ini tidak sekadar menunjukkan bahwa El Nino dalam beberapa dekade terakhir berada di sisi ekstrem dari pola alami. Menurut para peneliti, kekuatannya telah berada di luar kisaran yang terlihat dalam catatan seribu tahun tersebut.
“Kami tidak melihat masa lalu ketika El Nino sekuat saat ini, dan kami menunjukkan bahwa kekuatan El Nino berubah sejalan dengan pemanasan suhu global,” kata Cole.
Pengamatan langsung suhu laut di kawasan tersebut baru tersedia sejak pertengahan abad ke-19. Karena itu, para peneliti menggunakan karang untuk melihat bagaimana perilaku El Nino jauh sebelum era pengukuran modern.
Dalam kondisi normal, angin pasat mendorong air hangat ke arah barat sepanjang garis khatulistiwa. Ketika angin tersebut melemah, air hangat dapat bergerak kembali ke arah timur menuju Amerika Selatan dan memicu El Nino yang dapat bertahan selama berbulan-bulan hingga lebih dari satu tahun.
Karang yang tumbuh di perairan tersebut merekam kondisi lingkungan ketika membentuk kerangka kalsium karbonat. Karang bertambah sekitar 1 hingga 2 sentimeter setiap tahun, sehingga inti yang dibor dari kepala karang dapat menghasilkan lapisan-lapisan yang merekam kondisi suhu laut pada waktu berbeda.
Tim Cole mengambil sampel dari 13 karang di lima pulau di Galapagos, terdiri atas koloni karang yang masih hidup serta bongkahan karang yang berhenti tumbuh berabad-abad lalu. Karang purba tersebut disampel oleh Diane Thompson dari University of Arizona.
Dari setiap inti karang, peneliti menganalisis dua unsur kimia hingga tingkat sekitar satu milimeter. Rasio stronsium terhadap kalsium berkaitan dengan suhu ketika karang tumbuh, sementara rasio dua bentuk oksigen juga dapat digunakan untuk melacak perubahan suhu.
Hasil pengukuran tersebut menghasilkan 28 rangkaian data suhu yang kemudian dibandingkan untuk melihat perubahan pola El Nino dalam rentang waktu panjang.
Para peneliti membagi rekaman tersebut menjadi tiga periode, yakni 1000–1850 yang disebut periode praindustri, 1850–1981, dan periode modern sejak 1984.
Ketiga periode tersebut secara statistik berbeda satu sama lain, sementara besarnya perubahan atau ayunan El Nino terus meningkat dari satu periode ke periode berikutnya.
Jika dibandingkan dengan periode praindustri, ayunan El Nino pada era modern tercatat 36,5 persen lebih besar. Dibandingkan dengan periode abad ke-20, peningkatannya mencapai 16,2 persen.
Perubahan tersebut juga tidak berlangsung secara seimbang. Ekstrem hangat meningkat lebih besar dibandingkan ekstrem dingin, pola yang menurut penelitian merupakan ciri El Nino yang semakin kuat, bukan sekadar meningkatnya ketidakstabilan umum di Pasifik.
“Kami terus menambahkan rekaman dengan berpikir bahwa hasilnya akan menjadi semakin rumit, tetapi ternyata tidak. Ini adalah cerita yang sangat jelas,” ujar Cole.
Rekaman sepanjang 1.000 tahun tentu menimbulkan pertanyaan lain: apakah perubahan tersebut masih dapat dijelaskan oleh faktor alami?
Para peneliti menguji kemungkinan tersebut menggunakan 12 model iklim yang mensimulasikan kondisi antara tahun 850 dan 1850. Model tersebut dijalankan dengan memasukkan pengaruh alami seperti letusan gunung berapi dan perubahan keluaran energi Matahari, serta dibandingkan dengan simulasi yang tidak memasukkan faktor-faktor tersebut.
Hasil simulasi tidak menunjukkan peningkatan yang mendekati besarnya perubahan yang ditemukan dalam rekaman karang. Tim peneliti memperkirakan peluang peningkatan tersebut muncul hanya akibat variasi alami kurang dari 1 banding 20.
Dua model memang menunjukkan ayunan yang kuat, tetapi keduanya terjadi bersamaan dengan letusan gunung berapi.
Penelitian tersebut menemukan bahwa peningkatan kekuatan El Nino paling jelas terlihat di sekitar Galapagos, yang berada di kawasan Pasifik timur. Karena itu, wilayah tersebut menjadi fokus utama pengambilan sampel.
Para peneliti juga membandingkan hasilnya dengan rekaman karang dari Kepulauan Line di Pasifik tengah. Perubahannya bergerak ke arah yang sama, tetapi perbedaannya tidak sebesar yang terlihat di Pasifik timur.
Variabilitas modern di Pasifik tengah tercatat 33,8 persen lebih tinggi dibandingkan periode praindustri. Namun, catatan masa lalu di wilayah tersebut memiliki rentang yang jauh lebih lebar sehingga beberapa dekade terakhir tidak terlihat sejelas di Pasifik timur.
Peneliti juga menghadapi keterbatasan dalam membaca rekaman Pasifik tengah. Di wilayah tersebut, pengukuran oksigen turut dipengaruhi perubahan pada air itu sendiri selain suhu, sehingga keduanya belum dapat dipisahkan menggunakan data yang tersedia.
El Nino memengaruhi distribusi hujan di berbagai wilayah dunia. Di Amerika Serikat, misalnya, perubahan jalur badai dapat bergerak ke selatan sehingga wilayah Barat Daya yang biasanya lebih kering menjadi lebih basah, sementara kawasan Barat Laut menjadi lebih kering.
Perubahan serupa di wilayah lain dapat memicu kekeringan maupun banjir yang kemudian berkaitan dengan risiko penyakit, kegagalan panen, dan kebakaran hutan.
Menurut Cole, kondisi tersebut menjadi semakin penting karena perubahan El Nino terjadi di tengah pemanasan laut dan pemanasan global yang sudah berlangsung.
Ia mengatakan prakiraan untuk tahun mendatang menunjukkan suhu dapat berada sekitar 3,1 hingga 3,2 derajat Fahrenheit atau 1,7 hingga 1,8 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.
“Peristiwa ini berada di atas pemanasan global dan kemungkinan akan memperkuat kenaikan suhu yang biasanya kita lihat akibat gas rumah kaca,” kata Cole.
El Nino yang semakin kuat juga menjadi ancaman bagi ekosistem karang. Gelombang panas laut yang berulang selama El Nino telah memberikan tekanan besar terhadap terumbu karang, sementara karang laut dalam di Galapagos juga menyimpan rekaman gangguan sebelumnya dalam sistem yang sama.
Meski memberikan gambaran panjang mengenai perubahan El Nino, rekaman karang tersebut masih memiliki sejumlah celah. Inti karang dari Galapagos hanya mencakup sekitar 48 persen tahun antara 1100 dan 2015, sementara cakupannya semakin tipis sebelum tahun 1500.
Rekonstruksi lain yang menggabungkan data karang, lingkaran tahun pohon, dan sedimen menunjukkan peningkatan variabilitas El Nino sejak abad ke-19, bahkan sebelum pemanasan global meningkat secara signifikan.
Tim Cole menilai perbedaan waktu tersebut dapat berkaitan dengan kesalahan penanggalan dan keterbatasan karena sebagian besar rekaman karang dari kawasan khatulistiwa baru dimulai sekitar 1850–1900. Penelitian ini juga belum merupakan studi atribusi formal yang secara khusus menetapkan penyebab perubahan tersebut.
Pertanyaan lain yang masih terbuka adalah apakah kawasan Pasifik tengah pada akhirnya akan menunjukkan peningkatan yang sama dan keluar dari kisaran variabilitas alami selama 1.000 tahun terakhir.
Untuk menjawabnya, diperlukan lebih banyak rekaman karang dari kawasan Pasifik timur di sekitar khatulistiwa untuk mengisi periode-periode yang masih kosong.
Penelitian mengenai rekaman El Nino selama 1.000 tahun tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Science. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kondisi El Nino Pemanasan Suhu Global Dampak El Nino



























