Ilustrasi serangan jantung (Foto: Pexels: Freestocks)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah penelitian jangka panjang mengungkap bahwa lingkungan tempat tinggal dapat memengaruhi kesehatan jantung perempuan hingga puluhan tahun. Dampaknya bahkan tetap terlihat meski faktor pendapatan dan tingkat pendidikan telah diperhitungkan.
Temuan tersebut berasal dari studi yang mengikuti sekitar 1.200 perempuan di Massachusetts bagian timur, Amerika Serikat, selama lebih dari dua dekade.
Dikutip dari Earth, peneliti menemukan perempuan yang tinggal di lingkungan dengan tingkat kerentanan sosial tinggi memiliki kondisi kesehatan jantung yang lebih buruk dibanding mereka yang tinggal di lingkungan lebih sejahtera.
Tak hanya itu, penurunan kesehatan jantung pada kelompok tersebut juga berlangsung lebih cepat ketika memasuki masa menjelang menopause, yaitu periode yang memang dikenal meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Penelitian dilakukan melalui Project Viva, studi jangka panjang yang dimulai sejak 1999 hingga 2002 dengan merekrut perempuan hamil, kemudian terus memantau kondisi mereka hingga memasuki usia paruh baya.
Selama lebih dari 20 tahun, peneliti melakukan lima kali evaluasi kesehatan. Mereka menggunakan delapan indikator kesehatan jantung yang direkomendasikan American Heart Association, meliputi tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, indeks massa tubuh, pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta kebiasaan merokok.
Setiap peserta memperoleh skor kesehatan jantung antara 0 hingga 100. Semakin tinggi nilainya, semakin baik kondisi kardiovaskularnya.
Untuk menilai kondisi lingkungan tempat tinggal, tim menggunakan Social Vulnerability Index (SVI) milik Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Indeks ini mengukur berbagai faktor, seperti tingkat kemiskinan, pengangguran, kualitas perumahan, kepadatan hunian, hingga akses transportasi.
Hasilnya menunjukkan perempuan yang tinggal di lingkungan paling rentan memiliki skor kesehatan jantung sekitar enam hingga sepuluh poin lebih rendah dibanding mereka yang tinggal di lingkungan dengan kondisi sosial lebih baik.
Perbedaan tersebut sudah terlihat hanya dalam tiga tahun pertama penelitian dan terus bertahan hingga para peserta memasuki usia akhir 40-an sampai 50-an.
Menurut peneliti, selisih enam hingga sepuluh poin bukanlah angka yang kecil. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan penurunan kecil pada skor kesehatan jantung saja sudah berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung maupun kematian dini.
Penurunan paling tajam terjadi pada masa menjelang menopause. Pada fase ini, perempuan yang tinggal di lingkungan kurang mendukung mengalami penurunan kesehatan jantung lebih cepat dibanding kelompok lainnya.
Profesor Madya Harvard Medical School sekaligus peneliti utama, Izzuddin M. Aris, mengatakan hasil penelitian menunjukkan kesehatan jantung tidak hanya ditentukan oleh pilihan gaya hidup individu.
"Studi kami menunjukkan bahwa kesehatan jantung pada usia paruh baya dibentuk oleh lebih dari sekadar pilihan pribadi. Pendapatan, pendidikan, dan kondisi lingkungan tempat tinggal semuanya dapat berperan," ujar Aris.
Menariknya, pengaruh lingkungan tetap terlihat meski peneliti telah mengoreksi faktor ekonomi maupun pendidikan masing-masing peserta. Artinya, seseorang dengan pendapatan yang baik tetap dapat menghadapi risiko lebih tinggi apabila tinggal di lingkungan yang kurang mendukung.
Penelitian yang sama sebelumnya juga menemukan perempuan yang tinggal di lingkungan paling rentan mengalami menopause rata-rata sekitar dua tahun lebih awal dibanding mereka yang tinggal di lingkungan lebih baik. Menopause dini sendiri diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke.
Para peneliti menduga terdapat beberapa penyebab yang saling berkaitan. Lingkungan yang kurang mendukung umumnya memiliki akses terbatas terhadap makanan sehat, fasilitas olahraga, ruang terbuka yang aman, hingga layanan kesehatan berkualitas.
Selain itu, tekanan psikologis akibat kondisi lingkungan, seperti masalah ekonomi, perumahan yang tidak stabil, atau rasa tidak aman, diduga memicu stres kronis yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan tekanan darah dan merusak kesehatan pembuluh darah.
Penelitian juga menemukan perempuan dengan pendapatan lebih rendah, tingkat pendidikan yang lebih rendah, serta perempuan kulit hitam non-Hispanik cenderung memiliki skor kesehatan jantung lebih rendah. Namun faktor-faktor tersebut tidak sepenuhnya menjelaskan pengaruh lingkungan tempat tinggal.
Para peneliti menilai masa menjelang menopause menjadi waktu penting untuk memperkuat upaya pencegahan penyakit jantung, terutama bagi perempuan yang tinggal di kawasan dengan sumber daya terbatas. (*)
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Circulation: Population Health and Outcomes.
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gaya Hidup Tempat Tinggal Kesehatan Jantung


















