Senin, 27/07/2026 15:11 WIB

Pencuri Ayam Tewas Dikeroyok, Anggota DPR Desak Usut Tuntas





Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka memberikan kritik keras atas kasus tewasnya seorang pria berinisial KD usai diamuk massa.

Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Demokrat PDIP, Rieke Diah Pitaloka. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Anggota Komisi XIII DPR RI Bidang Hukum dan HAM, Rieke Diah Pitaloka memberikan kritik keras atas kasus tewasnya seorang pria berinisial KD usai diamuk massa akibat diduga mencuri ayam di Tabanan, Bali.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menilai insiden main hakim sendiri tersebut sebagai fenomena tragis yang menodai citra Bali di mata dunia.

Dia pun menyampaikan duka mendalam sekaligus keprihatinan atas peristiwa yang dinilainya sebagai kegagalan penegakan hukum di tingkat akar rumput.

"Saya anggota Komisi XIII DPR RI Bidang Hukum dan HAM berduka atas peristiwa di Tabanan. Seorang warga yang masih berstatus terduga pencuri ayam meninggal setelah dikeroyok massa. Anaknya menjadi saksi dan harus melihat jasad ayahnya," ujar Rieke dalam keterangannya, dikutip Senin, 27 Juli 2026.

Rieke juga menyoroti ketimpangan narasi keramahan Bali yang kerap digaungkan ke mancanegara dengan kasus main hakim sendiri tersebut.

"Ini tamparan keras. Di saat Bali mendunia dengan Silent Disco Run dan keramahan ke wisatawan, di saat yang sama hukum justru dikalahkan amarah di kampung sendiri," tegasnya.

Dia mendesak kepolisian untuk memproses hukum pelaku pengeroyokan tersebut. Rieke menekankan tidak ada ruang bagi tindakan main hakim sendiri.

"Proses hukum harus jalan. Pelaku pengeroyokan wajib diusut tuntas. Dan tidak boleh ada standar ganda antara penegakan hukum untuk WNA dan WNI," katanya

Selain itu, Rieke menyoroti pentingnya perlindungan terhadap keluarga korban, terutama anak yang menyaksikan kejadian tersebut.

"Praduga tak bersalah, hak hidup, dan perlindungan anak adalah harga mati. Negara wajib hadir memulihkan trauma anak dan menjamin kehidupan keluarga korban. Kemiskinan harus dilawan dengan kebijakan, bukan dengan kekerasan," tambahnya.

Rieke mengingatkan kembali nilai-nilai Tri Hita Karana (Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan) yang seharusnya menjadi dasar dalam menyelesaikan konflik, bukan dengan kekerasan fisik.

"Kembalikan peran banjar, pecalang, dan tokoh adat sebagai penengah. Jangan biarkan Bali kehilangan jiwanya: Bali yang damai,"

Sebagai tindak lanjut, Rieke memberikan rekomendasi khusus kepada aparat penegak hukum dan pemerintah daerah di Bali.

Kepada Polri, ia meminta agar dibentuk tim khusus untuk mengusut tuntas siapa pelaku pengeroyokan dan penyebab pasti kematian korban.

"Jangan biarkan ada kesan `kasus bule cepat, kasus rakyat sendiri lambat`. Keadilan harus terasa, bukan hanya di atas kertas," tuturnya.

Kepada Pemda Bali & Tabanan, Rieke mendesak kehadiran pemerintah melalui jaring pengaman sosial agar warga tidak terpaksa mencuri karena lapar, serta penyediaan layanan hukum gratis di desa-desa.

Ia juga menyarankan pelatihan bagi Pecalang dan aparat desa terkait SOP penanganan terduga pelaku secara manusiawi.

Kepada Desa Adat, Rieke berharap fungsi paruman (musyawarah) dikembalikan untuk menangani kasus-kasus ringan agar emosi sesaat tidak merusak nilai luhur Bali.

"Hukum ditegakkan, kemanusiaan dijaga, budaya Bali dirawat. Jangan sampai Bali hanya ramah untuk turis, tapi lupa melindungi rakyatnya sendiri," pungkasnya.

Untuk diketahui, seorang pria berinisial KD yang ketahuan hendak mencuri ayam milik warga tewas usai diduga dihajar massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.

Peristiwa yang terjadi pada Jumat, 24 Juli 2026,  pukul 01.30 Wita itu diduga dipicu oleh keresahan masyarakat yang belakangan kerap kehilangan hewan ternaknya, khususnya ayam aduan.

Polisi pun tidak hanya menyelidiki dugaan pencurian, tetapi juga mendalami dugaan tindak pidana pengeroyokan yang menyebabkan kematian terduga pelaku.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, KD diduga tepergok mencuri seekor ayam aduan milik I Wayan Adi Suteja (31), warga Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali.

Aksi tersebut langsung diketahui warga sekitar yang dalam waktu singkat telah berdatangan ke lokasi kejadian. Karena diduga dipicu emosi akibat maraknya kasus kehilangan ayam aduan di wilayahnya, warga kemudian mengamankan KD.

Namun situasi berubah ricuh hingga terduga pelaku menjadi sasaran pengeroyokan. Akibatnya, KD mengalami luka berat dan meninggal dunia di lokasi kejadian sebelum sempat diserahkan kepada aparat kepolisian. Tak hanya itu, massa juga membakar sepeda motor yang diduga milik KD.

KEYWORD :

Komisi XIII DPR Rieke Diah Pitaloka Kasus Pengeroyokan Bali Main Hakim Sendiri




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :