Sabtu, 27/06/2026 14:11 WIB

MUI Gelar FGD Pra-Kongres, Bahas Penguatan Umat dan Kedaulatan Bangsa





Kedua isu tersebut menjadi landasan dalam membangun peradaban global yang berkeadaban dengan berpedoman pada paradigma Islam Wasatiyah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mulai mematangkan substansi pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII dengan menggelar Forum Group Discussion (FGD) di MUI Pusat, Jakarta, Kamis (25/6) (Foto: Ist/MUI)

Jakarta, Jurnas.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mulai mematangkan substansi pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII dengan menggelar Forum Group Discussion (FGD) di MUI Pusat, Jakarta, Kamis (25/6).

FGD bertema "Indonesia, Dunia Islam, dan Tatanan Dunia Multipolar: Membangun Agenda Geopolitik Umat di Tengah Transformasi Global" ini menyoroti berbagai isu strategis, mulai dari Palestina, Islamofobia, kecerdasan buatan (AI), hingga perubahan tatanan geopolitik dunia.

FGD yang digelar Kelompok Kerja Geopolitik dan Tatanan Dunia Baru KUII VIII itu diikuti 45 peserta dari berbagai kalangan, antara lain Kemenko Polhukam, Kementerian Luar Negeri, Kaukus Parlemen, diplomat, akademisi, lembaga filantropi, organisasi kemanusiaan, hingga lembaga strategis.

Sekretaris Jenderal MUI, Amirsyah Tambunan, mengatakan FGD tersebut digelar untuk membahas dua isu besar, yakni penguatan umat (taqwiyatul ummah) dan penguatan kedaulatan bangsa (siyadat ad-daulah) di tengah perubahan sistem internasional menuju tatanan dunia multipolar.

"Kedua isu tersebut menjadi landasan dalam membangun peradaban global yang berkeadaban dengan berpedoman pada paradigma Islam Wasatiyah," kata Amirsyah dalam siaran pers dikutip Sabtu (27/6).

Menurut dia, pelaksanaan KUII VIII pada akhir Juli 2026 berlangsung pada momentum yang sangat penting di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk memanasnya konflik di Timur Tengah.

"Di tengah situasi konflik tersebut, geopolitik tidak lagi menjadi isu elite negara semata, tetapi sudah menjadi concern seluruh masyarakat. MUI sangat menghargai masukan dan pandangan dari para pakar demi suksesnya KUII VIII," kata Amirsyah.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa Indonesia memiliki modal strategis untuk memainkan peran lebih besar dalam diplomasi internasional.

"Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, dan berkedudukan sebagai middle power, Indonesia memiliki peluang menjadi jembatan dialog dan perdamaian di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global," ujar Amirsyah.

Dia menegaskan Indonesia harus tampil sebagai jembatan perdamaian dunia dengan dukungan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) melalui dialog, kerja sama, dan pembangunan peradaban global yang berkeadilan.

Ketua Kelompok Kerja Geopolitik dan Tatanan Dunia Baru KUII VIII, Sudarnoto Abdul Hakim, menjelaskan dunia saat ini sedang bergerak menuju tatanan multipolar yang ditandai persaingan di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, energi, teknologi, keamanan siber, hingga penguasaan data.

Namun, lanjutnya, di saat yang sama, muncul pula tantangan baru berupa AI, keamanan siber, dan disinformasi yang membutuhkan peningkatan literasi dan kedaulatan digital bangsa.

Dalam forum tersebut, isu Palestina menjadi salah satu perhatian utama. Sudarnoto menegaskan persoalan Palestina tidak hanya menjadi isu politik, tetapi telah berkembang menjadi poros moral dan kemanusiaan dunia.

"Isu Palestina tetap merupakan perhatian dan keprihatinan dunia, bahkan menjadi poros moral dan kemanusiaan bagi perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina," ujar Sudarnoto sembari mengingatkan kembali Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023 yang menyatakan "Haram mendukung agresi Israel, wajib mendukung kemerdekaan Palestina."

FGD juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang akan dibawa ke KUII VIII, termasuk penyusunan Peta Jalan Geopolitik 2026-2030. Dokumen tersebut akan memuat agenda besar terkait Palestina dan keadilan global, Islamofobia, tatanan dunia multipolar, AI dan kedaulatan digital, serta geoekonomi umat dan ketahanan nasional.

Selain itu, forum menilai umat Islam Indonesia harus memainkan peran yang lebih besar dalam percaturan global, tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai kekuatan moral, intelektual, diplomatik, dan sosial-ekonomi dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil dan berkeadaban.

KUII VIII sendiri dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada akhir Juli 2026 dan akan menjadi forum strategis bagi umat Islam Indonesia dalam merumuskan arah kebijakan keumatan dan kebangsaan di tengah dinamika global yang terus berubah.

 
 
 
KEYWORD :

Majelis Ulama Indonesia FGD Pra-Kongres KUII VIII Penguatan Umat Kedaulatan Bangsa




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :