Jum'at, 19/06/2026 18:28 WIB

Ilmuwan Ingatkan Tikus Mulai Kebal Racun, Ancaman bagi Kesehatan-Lingkungan





Penelitian terbaru mengungkap bahwa sebagian tikus rumah kini mulai berevolusi dan mengembangkan kekebalan terhadap racun yang selama puluhan tahun jadi senjata

Gambar tikus (foto: Pixabay)

Jakarta, Jurnas.com - Perang panjang manusia melawan tikus memasuki babak baru. Penelitian terbaru mengungkap bahwa sebagian tikus rumah kini mulai berevolusi dan mengembangkan kekebalan terhadap racun yang selama puluhan tahun menjadi senjata utama pengendalian hama.

Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru karena dapat memperumit upaya pengendalian tikus di kawasan perkotaan sekaligus meningkatkan risiko penyebaran penyakit dan kerusakan lingkungan.

Temuan tersebut berasal dari penelitian tim ilmuwan Rutgers University yang meneliti populasi tikus dan mencit di wilayah timur laut Amerika Serikat.

Dikutip dari Earth, hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak tikus rumah telah membawa mutasi genetik yang membuat mereka mampu bertahan dari paparan racun antikoagulan, jenis racun yang menjadi andalan pengendalian hama sejak 1950-an.

Racun antikoagulan bekerja dengan menghambat proses pembekuan darah sehingga menyebabkan pendarahan internal yang fatal pada hewan pengerat. Selama beberapa dekade, metode ini dianggap efektif dan menjadi standar utama dalam pengendalian populasi tikus.

Namun para praktisi pengendalian hama mulai melaporkan adanya fenomena tidak biasa. Tikus di sejumlah kawasan perkotaan tetap bertahan hidup meski telah berulang kali terpapar racun dalam dosis yang seharusnya mematikan.

Peneliti utama studi tersebut, Jin-Jia Yu, mengatakan laporan dari lapangan menjadi titik awal penelitian. Menurutnya, banyak petugas pengendalian hama mengeluhkan semakin sulitnya mengendalikan populasi tikus meskipun telah menggunakan racun yang selama ini terbukti efektif.

Tim peneliti kemudian memfokuskan kajian pada gen bernama Vkorc1, gen yang diketahui berperan dalam proses pembekuan darah. Mutasi tertentu pada gen ini mampu mengubah struktur protein sehingga racun tidak lagi bekerja secara optimal.

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menganalisis DNA dari 147 tikus rumah dan 143 tikus Norwegia yang dikumpulkan dari kawasan perkotaan di New York, New Jersey, Pennsylvania, dan Washington DC selama periode 2021 hingga 2025.

Hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 84 persen tikus rumah yang diteliti membawa setidaknya satu mutasi pada gen Vkorc1. Bahkan hampir 70 persen di antaranya memiliki mutasi yang telah diketahui berkaitan dengan kemampuan bertahan hidup terhadap racun tikus yang umum digunakan.

Dua mutasi yang paling banyak ditemukan adalah Y139C dan L128S. Kedua mutasi ini diyakini menjadi faktor utama meningkatnya resistensi terhadap racun.

Menariknya, kondisi berbeda ditemukan pada tikus Norwegia. Sekitar 35 persen memang memiliki mutasi genetik, tetapi belum ada bukti bahwa mutasi tersebut membuat mereka kebal terhadap racun sebagaimana yang terjadi pada tikus rumah.

Para ilmuwan menduga perilaku kedua spesies menjadi salah satu penyebab perbedaan tersebut. Tikus rumah cenderung lebih penasaran dan lebih cepat mencoba makanan baru, termasuk umpan beracun. Sebaliknya, tikus Norwegia dikenal lebih berhati-hati dan sering kali mengamati makanan baru berkali-kali sebelum memakannya.

Paparan racun yang lebih sering pada tikus rumah diduga menciptakan tekanan evolusi yang lebih kuat sehingga mendorong munculnya individu-individu yang kebal dan kemudian mewariskan sifat tersebut kepada keturunannya.

Penelitian ini juga menemukan sejumlah mutasi baru yang belum pernah tercatat sebelumnya. Salah satunya adalah mutasi L128V pada tikus Norwegia yang ditemukan di Brooklyn dan menjadi temuan pertama di dunia untuk jenis tikus tersebut.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan apakah mutasi-mutasi baru tersebut benar-benar memberikan kekebalan terhadap racun.

Temuan ini menjadi perhatian serius karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri pengendalian hama. Tikus diketahui dapat mencemari makanan, merusak bangunan, serta menjadi pembawa berbagai penyakit dan parasit yang berisiko bagi kesehatan manusia.

Selain itu, penggunaan racun tikus juga berpotensi mencemari rantai makanan. Burung pemangsa seperti elang dan burung hantu sering kali ikut terpapar racun setelah memangsa tikus yang telah terkontaminasi.

Karena itu, para ilmuwan mendorong penerapan strategi pengendalian yang lebih terpadu, seperti memperbaiki sanitasi lingkungan, menutup akses masuk tikus ke bangunan, mengurangi sumber makanan, serta memanfaatkan perangkap mekanis.

Peneliti senior studi ini, Changlu Wang, menegaskan bahwa tikus bukan sekadar gangguan kecil. Menurutnya, meningkatnya resistensi terhadap racun menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis sains yang mampu melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Pest Management Science tersebut menjadi salah satu bukti terbaru bahwa evolusi dapat berlangsung lebih cepat dari yang dibayangkan.

Bagi para ilmuwan, pesan utamanya jelas: racun tikus belum kehilangan fungsi sepenuhnya, tetapi tikus mulai mengejar ketertinggalannya. Kini, manusia dituntut mencari strategi yang lebih cerdas untuk memenangkan pertarungan panjang melawan hewan pengerat tersebut.

KEYWORD :

Tikus Rumah Kebal Racun Ancaman Baru Kesehatan dan Lingkungan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :