Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance (Foto: Anadolu)
Washington, Jurnas.com - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, melayangkan kritik tajam terhadap reaksi panik yang ditunjukkan oleh sejumlah pejabat tinggi Israel terkait nota kesepahaman terbaru antara Washington dan Teheran.
Vance menegaskan bahwa kekuatan militer dan kekerasan tidak akan pernah bisa menjadi solusi tunggal untuk mengatasi seluruh persoalan keamanan nasional.
Dalam wawancara eksklusif bersama The New York Times pada Kamis (18/6), Vance mengaku heran dengan gejolak politik yang terjadi di Israel.
Menurutnya, respons berlebihan tersebut berakar dari rasa ketidakpercayaan yang tidak mendasar terhadap komitmen Amerika Serikat.
"Saya menganggap kepanikan yang terjadi di Israel ini agak aneh karena menurut saya hal itu berasal dari ketidakpercayaan. Padahal Amerika telah memperoleh kepercayaan dari kawasan tersebut," ujar Vance.
Vance mengingatkan kembali bahwa Washington telah memberikan dukungan politik, ekonomi, hingga militer yang luar biasa besar kepada Israel selama bertahun-tahun.
Oleh karena itu, ia menepis tuduhan para kritikus yang menyebut kesepakatan baru dengan Iran ini merugikan sekutu mereka.
"Kami telah melakukan banyak hal untuk entitas dan pemerintah tersebut. Gagasan bahwa kami membuat kesepakatan yang buruk tidak didukung oleh fakta dan tidak masuk akal jika melihat panjangnya hubungan yang telah terjalin," ucapnya.
Ia tidak memungkiri bahwa isu diplomasi dengan Iran merupakan hal yang sangat sensitif bagi masyarakat dan lanskap politik Israel.
Namun, Vance menilai kepanikan yang meluas saat ini sebagian besar dipicu oleh penyebaran informasi yang keliru (misinformasi) mengenai poin-poin asli dalam perjanjian tersebut.
Secara khusus, Wakil Presiden AS ini juga menanggapi kritik keras yang sebelumnya dilontarkan oleh dua menteri sayap kanan Israel, yaitu Kepala Otoritas Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Kepala Otoritas Keuangan Bezalel Smotrich.
Dengan nada retoris, Vance mempertanyakan solusi alternatif apa yang dimiliki oleh para pejabat Israel tersebut selain jalur perang.
"Respons saya kepada mereka adalah, apa sebenarnya usulan Anda? Anda adalah entitas dengan sembilan juta penduduk. Anda tidak bisa menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional hanya dengan membunuh," kata Vance.
Pemerintah Amerika Serikat meyakini bahwa nota kesepahaman ini membawa angin segar dan manfaat besar bagi stabilitas Timur Tengah, dunia internasional, termasuk keamanan Israel itu sendiri.
Vance mengklaim diplomasi kali ini berhasil mencapai target utama Washington: menghentikan ambisi nuklir Teheran.
"Kami telah menghancurkan program nuklir mereka. Kami telah membawa Iran ke titik di mana mereka menawarkan berbagai hal yang, apakah nantinya benar-benar dilaksanakan atau tidak, masih harus dilihat. Namun enam bulan lalu, hal-hal itu bahkan hanya bisa dianggap sebagai impian," katanya.
Menutup wawancaranya, Vance meminta semua pihak untuk memberikan ruang dan waktu bagi proses negosiasi ini agar berjalan optimal.
"Mari kita biarkan proses negosiasi ini berjalan. Mari kita lihat apakah tindakan Iran benar-benar sesuai dengan apa yang mereka katakan. Dan berikan sedikit penghargaan kepada Amerika Serikat, yang menurut saya telah menjadi mitra luar biasa bagi pemerintah Israel selama bertahun-tahun," ujar Vance. (Anadolu)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Amerika Serikat JD Vance Militer Israel AS dan Iran Konflik Timur Tengah




















