Peluncuran Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia oleh Yayasan Mitra Netra (Foto: Habib/Jurnas.com)
Jakarta, Jurnas.com - Sektor ketenagakerjaan nasional saat ini masih menghadapi tantangan besar terkait inklusivitas, khususnya bagi penyandang disabilitas netra.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tercatat lebih dari 17,8 juta orang. Meski demikian tingkat partisipasi kerja mereka baru mencapai 23,94 persen.
Rendahnya penyerapan tenaga kerja tunanetra seringkali berakar dari kurangnya pemahaman penyedia lapangan kerja mengenai kemampuan, bidang pekerjaan dan metode bekerja para tunaetra.
Melihat hal ini, Kepala Bagian Ketenagakerjaan Yayasan Mitra Netra Aria Indrawati menekankan bahwa para penyandang disabilitas pada dasarnya memiliki kapasitas untuk bersaing di pasar tenaga kerja.
"Mereka (perekrut kerja) juga harus memiliki wawasan, pengetahuan tentang perekrutan penyandang disabilitas dari berbagai ragam," kata Aria saat ditemui usai kegiatan Peluncuran Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia oleh Yayasan Mitra Netra, di Jakarta Pusat, Rabu (6/5).
"Sehingga tidak ada lagi stereotip disabilitas tapi yang bisa melihat, bisa berjalan, bisa mendengar, jadi yang totally blind bagaimana dong. Nah itu yang masih harus terus kami perjuangkan," lanjut ia.
Karena itu, Yayasan Mitra Netra meluncurkan direktori pekerjaan tunanetra sebagai referensi strategis bagi masyarakat, pemangku kebijakan, dan penyedia lapangan kerja dalam membangun ekosistem kerja yang inklusif.
"Kami awalnya mendata tunanetra yang sudah bekerja, setelah terdata, lalu kami klaster pekerjaannya menjadi tujuh bidang, seperti teknologi, komunikasi, administrasi, pendidikan, keuangan, pengembangan kebijakan dan satu klaster yang saya alokasikan untuk lain-lain," kata Aria.
Salah satu bukti bahwa tunanetra mampu bekerja profesional di sektor formal tergambar dari Andira Pramatyasari. Ia kini bekerja sebagai ASN di bidang pelayanan hukum, biro hukum Pemprov DKI Jakarta sejak 2021.
"Karena saya daftarnya di biro hukum yang lain nilainya tinggi-tinggi. Jadi saya berusaha bisa punya nilai yang paling tidak mirip-mirip seperti teman-teman di formasi hukum, supaya mereka tidak menganggap disabilitas bisa masuk karena keberuntungan saja," tutur Andira.
Adapula kisah inspiratif dari Sigit Yulyadi. Sigit kini bekerja di bidang retail, ia membuktikan bahwa tunanetra mampu bekerja sebagai digital customer service dengan memanfaatkan bantuan pembaca layar, yang memungkinkannya menangani keluhan pelanggan sesuai standar perusahaan.
"Jadi screen reader ini menjadi tools utama teman-teman tunanetra, termasuk saya sendiri untuk menunjang pekerjaan, khususnya saya pribadi di bidang customer service," katanya.
Sementara itu dari sisi industri, Chief Executive Officer (CEO) Imamatek, Agung Sachli mempelopori integrasi talenta tunanetra sebagai software tester sejak 2023. Kolaborasi ini membuktikan bahwa quality controller tunanetra memiliki ketajaman mumpuni dalam mengevaluasi alur logika aplikasi yang sering terlewatkan.
Hal senada juga disampaikan oleh RS Jakarta Eye Center melalui inisiatif human capital yang menempatkan staf tunanetra di contact center. Inisiatif ini membuktikan bahwa dengan teknologi dan pendampingan yang tepat, dapat diatasi sekaligus menghadirkan empati yang lebih mendalam dalam layanan pasien.
Mitra Netra berharap direktori pekerjaan tunanetra mampu mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan budaya kerja yang inklusif disabilitas, sekaligus memastikan setiap individu, termasuk tunanetra, memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Disabilitas Tunanetra Yayasan Mitra Netra Talenta Tunanetra
























