Senin, 27/04/2026 16:16 WIB

President University Kukuhkan Tiga Guru Besar, Ini Profilnya





Pengukuhan tiga Guru Besar ini menjadi komitmen President University dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan melalui para akademisi unggul.

Pengukuhan resmi Guru Besar President University (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - President secara resmi mengukuhkan tiga Guru Besar baru dalam dua sesi terpisah. Pengukuhan ini menjadi komitmen President University dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan melalui para akademisi unggul.

Melalui dua sesi terpisah, President University mengukuhkan Prof. Dr. Anton Wachidin Widjaja sebagai Guru Besar dalam bidang Manajemen Strategis, Prof. Dr.-Ing. Erwin Parasian Sitompul di bidang Manajemen Pemasaran, dan Prof. Jhanghiz Syahrivar di bidang Rekayasa Otomasi Berbasis Kecerdasan Buatan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) M. Samsuri, menekankan pentingnya pencapaian jabatan Guru Besar bagi seorang dosen.

Dia mengatakan bahwa menjadi Guru Besar bukan hanya sebuah capaian personal, tetapi juga kontribusi strategis bagi institusi dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Hal senada disampaikan Kepala LLDikti Wilayah IV Jawa Barat, Lukman. Dia menilai pencapaian ini merupakan bentuk pengakuan atas jabatan akademik tertinggi yang dapat diraih oleh seorang dosen.

"Kami sangat berbahagia dapat menyaksikan pengukuhan Guru Besar di President University. Ini merupakan bentuk pengakuan atas capaian akademik tertinggi dalam dunia pendidikan tinggi," ujar Lukman.

Dia juga menyoroti bahwa pencapaian tersebut bukanlah hal yang mudah. Dari sekitar 333.000 dosen di Indonesia, hanya sekitar 12.000 yang berhasil mencapai jabatan Guru Besar, atau sekitar 3 persen.

Selain itu, dari total 415 perguruan tinggi di wilayah Jawa Barat dan Banten, hanya 19 yang berstatus unggul dan President University termasuk di dalamnya.

Berikut ini profil ketiga guru besar baru President University:

1. Prof. Dr. Anton Wachidin Widjaja, S.E., M.M. - Profesor Ilmu Manajemen Strategis

Dekan Fakultas Bisnis President University ini menyoroti pentingnya transformasi digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin didominasi oleh teknologi.

Dia menjelaskan bahwa meskipun digitalisasi menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan, banyak UMKM masih menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya literasi digital, keterbatasan infrastruktur, serta keterbatasan modal dalam mengadopsi teknologi.

Menurut dia, hal ini memerlukan kesiapan pelaku usaha untuk terus meningkatkan kemampuan, berani melakukan transformasi, serta mampu menciptakan nilai tambah bagi pelanggan melalui inovasi berbasis digital.

Mengacu pada temuan Transparency International dan World Economic Forum (2024), integritas bisnis berperan penting dalam mendorong keberhasilan UMKM melalui peningkatan reputasi, pengurangan risiko, serta terciptanya keunggulan bersaing yang berkelanjutan.

“Keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada integritas dalam menjalankan bisnis. Praktik bisnis yang jujur, transparan, dan beretika menjadi kunci dalam membangun kepercayaan, baik dari pelanggan maupun mitra usaha,” kata Prof. Anton.

2. Prof. Jhanghiz Syahrivar, S.E., M.M., Ph.D. - Profesor Ilmu Manajemen Pemasaran

Dalam orasinya, Prof. Jhanghiz menegaskan bahwa pemasaran merupakan jantung dari bisnis sekaligus esensi dari inovasi. Dia mengajak untuk melihat pemasaran tidak hanya sebagai fungsi manajerial untuk meningkatkan pendapatan, melainkan sebagai kekuatan yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan sosial.

Menariknya, Prof. Jhanghiz merupakan alumni President University dari angkatan pertama, sekaligus menjadi alumni pertama President University yang berhasil meraih gelar Guru Besar.

Dia menyoroti bahwa kenyamanan dan kemudahan hidup yang dinikmati masyarakat modern sering kali tidak terlepas dari realitas yang dialami kelompok rentan. Dalam praktiknya, etika pemasaran kerap diabaikan dan belum menjadi perhatian utama dalam pengajaran maupun implementasi.

“Pemasaran bukan hanya alat ekonomi, tetapi kekuatan sosial yang dapat membentuk nilai dan realitas masyarakat. Ia bisa memperkuat, namun juga dapat merusaknya,” ujar Prof. Jhanghiz.

Melalui perspektif macromarketing, Prof. Jhanghiz menjelaskan bahwa pemasaran harus dipahami sebagai bagian dari sistem sosial yang lebih luas.

3. Dr.-Ing. Erwin Parasian Sitompul, S.T., M.Sc. - Profesor Rekayasa Otomasi Berbasis Kecerdasan Buatan

Head of Project Center and Initiatives sekaligus dosen Fakultas Teknik President University ini menyoroti perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan, khususnya jaringan saraf tiruan (artificial neural network), yang mengalami lonjakan signifikan dalam dua dekade terakhir.

Dia menjelaskan bahwa pada awal 2000-an, model neural network masih relatif sederhana, dengan jumlah parameter terbatas dan dapat dijalankan menggunakan komputer pribadi dalam waktu pelatihan yang singkat.

Namun, dalam kurun waktu 25 tahun, teknologi tersebut telah berkembang secara drastis, baik dari segi kompleksitas maupun skalanya. Model neural network kini digunakan secara luas dalam berbagai bidang, seperti pemrosesan teks dan citra, dengan dukungan data dalam jumlah besar.

Perkembangan ini turut mengubah paradigma dalam rekayasa sistem otomasi, dari sistem yang bersifat kaku menjadi sistem yang mampu belajar dari data, beradaptasi, dan merespons perubahan lingkungan secara dinamis.

Di sisi lain, Prof. Erwin juga menyoroti dampak signifikan perkembangan AI terhadap dunia pendidikan tinggi. Akses informasi yang kini semakin terbuka, ditambah dengan kehadiran teknologi seperti ChatGPT, Gemini, dan Copilot, memungkinkan mahasiswa menyelesaikan tugas dengan lebih cepat.

Meski demikian, dia mengingatkan adanya risiko berkurangnya pemahaman mendalam terhadap konsep dasar. “AI dapat menghitung, mengklasifikasi, bahkan memprediksi. Namun, AI tidak bertanggung jawab atas konsekuensi etis dan tidak memahami konteks sosial. Semua itu tetap menjadi peran manusia,” kata Prof. Erwin.

Dia juga menekankan pentingnya penguasaan fundamental knowledge agar mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pengembang.

Menurut dia, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa transformasi digital dimaknai sebagai ruang untuk membentuk generasi yang mampu mengembangkan teknologi secara bertanggung jawab dan berpusat pada manusia.

Sementara itu, Ketua Yayasan President University, Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, menyoroti capaian institusi dalam melahirkan Guru Besar sebagai indikator penting kualitas akademik.

Hingga saat ini, President University telah memiliki delapan Guru Besar, sebuah pencapaian yang tidak mudah di tengah ketatnya persyaratan akademik di Indonesia.

Dia menekankan bahwa keberadaan Guru Besar harus mampu memperkuat citra akademik kampus sekaligus mendorong pertumbuhan riset dan inovasi.

"Kami berharap semakin banyak Guru Besar yang lahir dari President University, sehingga kualitas riset semakin berkembang dan President University dapat menjadi kebanggaan, bahkan menjadi ‘bunga’ yang tumbuh di kawasan Jababeka," kata dia.

Lebih lanjut, Rektor President University, Dr. Handa Abidin menyoroti makna simbolis dari pengukuhan Guru Besar kali ini. Dia mengungkapkan bahwa salah satu profesor yang dikukuhkan, Prof. Jhanghiz, merupakan alumni President University dari angkatan pertama.

“Sekitar 18 tahun yang lalu, beliau lulus dari President University. Hari ini, beliau diresmikan sebagai profesor di President University. Ini menunjukkan bahwa President University tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan akademisi dari alumninya sendiri,” kata dia menuturkan.

Rektor menambahkan bahwa capaian tersebut menjadikannya sebagai profesor termuda di LLDIKTI Wilayah IV. Dia juga berharap kontribusi para Guru Besar dapat melampaui batas institusi.

“Kami berharap keilmuan yang dimiliki tidak hanya berdampak bagi President University, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia, bahkan dunia,” ujar Handa.

KEYWORD :

Guru Besar President University Prof. Dr. Anton Wachidin Widjaja




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :