Presiden Joko widodo saat meninjau galangan kapal (ksp)
Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan, kenaikan importasi dari Tiongkok sangat luar biasa. Porsi dari tiongkok 25 persen sendiri, sementara total dari negara Asia Tenggara (ASEAN) saja 20 persen. INDEF menyoroti kenaikan signifikan mencapai 343 persen lebih untuk kategori kapal laut dan bangunan terapung.
Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati. Menurutnya, kenaikan ini tentu saja memunculkan tanda tanya besar. Karena diduga kenaikan fantastis itu berkaitan dengan impor kapal bekas. Padahal, kenaikan impor kapal jelas memukul industri galangan kapal nasional."Per definisi, bangunan terapung itu juga tidak jelas, apa yang dimaksud bangunan terapung. Kita curiga lonjakan impor drastis itu berkaitan impor kapal bekas, ini kan aneh, padahal pemerintah mendorong industri galangan kapal," tegas Enny dalam siaran persnya.Kata Enny, dengan fakta itu, sejatinya kenaikan impor bukan berita bagus. Kalau pun ada kenaikan impor seperti peralatan mesin, peralatan listrik, hingga besi dan baja, memang bisa dikaitkan dengan menggeliatnya infrastruktur. Tetapi, tetap saja, kenaikan impor itu dinikmati oleh negara lain karena menggerogoti devisa.Baca juga :
KPK Panggil 4 Pegawai Bea Cukai Terkait Korupsi
Sekali lagi, Enny menegaskan, dari sisi struktur kenaikan impor yang luar biasa. Padahal seharusnya lebih condong ke konsumsi bukan kebutuhan mendorong sektor manufaktur nasional. "Begitu juga soal perminttan tarif bea masuk nol persen untuk komponen kapal demi meningkatkan daya saing, boleh saja diberikan asal selektif dan jangan sampai kontraproduktif dengan mengimpor kapal bekas," ujarnya. "Misal pelabuhan kita akan disinggahi kapal besar, boleh saja dihubungkan dengan biaya logistik. Tapi orang sering lupa, yang turun itu bukan biaya antar pulau namun barang impornya yang makin murah, kompetitif. Tidak ada yang bisa dibanggakan," kritik Enny.
KPK Panggil 4 Pegawai Bea Cukai Terkait Korupsi
Ikuti Update jurnas.com di
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD : Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Produk China Impor INDEF


























