Rabu, 11/12/2019 07:04 WIB

Kesehatan Reproduksi di Lombok Utara Memprihatinkan

Bencana gempa yang terjadi di Lombok tahun lalu masih berdampak kepada masyarakat hingga saat ini dan dapat mengganggu kesehatan reproduksi.

Penyuluhan kesehatan reproduksi di Lombok (Foto: DKT Indonesia)

Jurnas.com - Kesehatan reproduksi merupakan salah satu modal utama bagi perempuan untuk dapat mewujudkan kehidupan yang sehat dan bahagia.

Namun, seringkali kondisi seperti kurangnya akses sanitasi, fasilitas kesehatan yang kurang memadai, hingga kurangnya akses terhadap pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang komprehensif menjadi kendala bagi perempuan dalam menjaga kesehatan reproduksinya.

Menyadari akan hal tersebut, Andalan Feminine Care sebagai brand kesehatan reproduksi di Indonesia, bekerjasama dengan PKBI NTB menyelenggarakan penyuluhan kesehatan reproduksi kepada masyarakat di Dusun Teluk Kode, Desa Malaka, Lombok Utara.

Maharani Anindita, Brand Manager Andalan Feminine Care mengungkapkan warga Dusun Teluk Kodek merupakan salah satu yang terdampak bencana gempa bumi pada tahun 2018 lalu.

Situasi bencana memperparah kondisi kesehatan reproduksi perempuan karena sarana toilet dan air bersih biasanya kurang memadai, sehingga mempersulit mereka dalam memenuhi kebutuhan kesehatan reproduksi seperti menstruasi, mengandung, melahirkan, hingga menyusui. Selain itu, perempuan di dusun ini rata-rata menikah muda pada umur 13-14 tahun.

Kegiatan yang dihadiri oleh seratus Ibu dan perempuan di Dusun Teluk Kodek ini juga dihadiri oleh sejumlah perwakilan dokter serta tenaga kesehatan dari PKBI NTB, yaitu dr. Ratna Dewi, Maryati Rahayu, dan dr. Handomi.

Dalam penyuluhan tersebut, peserta mendapatkan berbagai bekal pengetahuan kesehatan reproduksi seperti cara menjaga kebersihan organ reproduksi baik pada aktivitas sehari-hari maupun pada saat menstruasi, pembekalan mengenai pentingnya pemberian ASI, hingga pentingnya perencanaan keluarga dengan berkontrasepsi.

"Banyak sekali masyarakat di Dusun Teluk Kodek, terutama ibu-ibu dan perempuan yang tidak terlalu paham mengenai organ reproduksi, cara penggunaan alat-alat kontrasepsi, hingga masih percaya berbagai mitos tentang kesehatan reproduksi. Hal ini dikarenakan mereka tinggal di daerah pedalaman, jauh dari fasilitas kesehatan dan jarang mendapatkan penyuluhan" ujar dr Ratna Dewi dari PKBI NTB salah satu pembicara pada acara tersebut.

Pernyataan dr. ratna Dewi tersebut juga ditunjang oleh data mengenai partisipasi perempuan di Nusa Tenggara Barat yang mengikuti KB dengan metode kontrasepsi modern masih sangat minim yaitu sebesar 35,9 persen.

Padahal, penggunaan kontrasepsi juga menjadi tolak ukur bagi seorang Ibu untuk menjaga kesehatan reproduksinya sehingga dapat menjaga jarak kelahiran antar anak satu dengan yang lain.

Lebih lanjut, kata dr. Ratna Dewi, bencana gempa yang terjadi di Lombok tahun lalu masih berdampak kepada masyarakat hingga saat ini dan dapat mengganggu kesehatan reproduksi.

"MCK belum maksimal, masih banyak orang yang turun untuk mendapatkan sumber air. Pakai MCK bersama-sama tetangga. Ini yang perlu diperhatikan untuk mengurangi masalah infeksi. Karena faktor air bersih dan ketidak-tahuan merawat kesehatan reproduksi. Bahkan masih ada juga perempuan yang menggunakan kain ketika menstruasi," ungkapnya.

TAGS : Kesehatan Reproduksi Alat Kontrasepsi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :