Senin, 20/05/2019 15:56 WIB

AS Ajak Industri Minyak Bergabung Administrasi Trump

Pompeo mengatakan, minyak serpih dan gas alam AS yang baru ditemukan akan memperkuat kebijakan luar negeri.

Direktur Central Intelligence Agency (CIA), Mike Pompeo (Foto: via Financial Tribune)

Houston, Jurnas.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mendesak industri minyak bekerja dengan administrasi Trump untuk mempromosikan kepentingan kebijakan luar negeri AS, terutama di Asia dan di Eropa, dan untuk menghukum paea "aktor jahat" di dunia.

Di depan para eksekutif perusahaan-perusahaan energi dan minyak terbesar di dunia di Houston, Pompeo mengatakan, minyak serpih dan gas alam AS yang baru ditemukan akan memperkuat kebijakan luar negeri.

Dalam beberapa bulan terakhir, Washington telah menjatuhkan sanksi pada dua produsen minyak utama dunia, yaitu Venezuela dan Iran.

Pompeo mengatakan Washington akan menggunakan semua alat ekonominya untuk membantu mengatasi ekonomi di Venezuela yang merosot salam bertahun-tahun di bawah kepemimpinan Presiden Sosialis, Nicolas Maduro.

Tahun lalu, Washington memberlakukan kembali sanksi minyak terhadap Iran, yang secara tajam mengurangi volume ekspor minyak mentah dalam beberapa bulan terakhir untuk mengekang kegiatan nuklir, rudal, dan kegiatan regional Teheran.

"Kami berkomitmen untuk membawa ekspor minyak mentah Iran ke nol secepat kondisi pasar mengizinkan," tegas Pompeo.

"Kita perlu menyingsingkan lengan baju kita dan bersaing - dengan memfasilitasi investasi, mendorong mitra untuk membeli dari kita, dan dengan menghukum aktor jahat," sambungnya.

Pompeo mengatakan booming ekspor minyak dan gas AS telah memberi Paman Sam kemampuan memenuhi permintaan energi yang pernah dipenuhi para saingan geopolitiknya.

"Kami tidak ingin sekutu-sekutu Eropa kami terpikat pada gas Rusia melalui proyek NordStream II, seperti halnya kami sendiri ingin bergantung pada pasokan minyak Venezuela," kata Pompeo, merujuk pada ekspansi pipa gas alam dari Rusia ke Eropa Tengah.

TAGS : Amerika Serikat Industri Minyak Administrasi Trump




TERPOPULER :