Arsip foto - Asap mengepul menyusul serangan Israel di Nabatieh, Lebanon, 28 Mei 2026 (Foto: Reuters)
Beirut, Jurnas.com - Hanya berselang satu hari setelah pengumuman gencatan senjata baru antara Israel dan kelompok Hezbollah, militer Israel dilaporkan kembali meluncurkan gelombang serangan udara brutal ke wilayah Lebanon Selatan pada Sabtu (20/6).
Media resmi Lebanon menyatakan agresi mendadak ini menewaskan sedikitnya lima orang dan mencederai kesepakatan damai yang baru seumur jagung tersebut.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa jet tempur Israel melancarkan serangan udara di lebih dari belasan lokasi di Lebanon Selatan sejak lewat tengah malam hingga Sabtu pagi, dengan intensitas tertinggi di dalam dan sekitar area Nabatieh.
Selain serangan udara, artileri Israel juga membombardir hebat pinggiran Kota Nabatieh, wilayah yang menjadi pusat pertempuran sengit dalam beberapa hari terakhir.
NNA merinci, tiga orang tewas dalam serangan udara di kota Arab Salim, satu orang tewas di Deir Zahrani, dan satu korban lainnya gugur setelah "drone musuh menyasar sebuah sepeda motor" di pintu masuk kota Dweir.
Serangan di kota Barish bahkan memicu pembantaian yang menewaskan empat anggota dari satu keluarga, termasuk ayah, ibu, dan dua anak mereka. Sementara itu, seorang tentara Lebanon juga dilaporkan tewas akibat serangan di Jalur Kafr Rumman.
Menurut laporan NNA, pesawat tempur Israel juga menggempur wilayah Jbour di Kfarhouna, distrik Jezzine. Serangan tambahan menyasar kota Barish di distrik Tyre dan Borj Qalaouiyeh, diiringi aktivitas drone intai yang sangat padat di sektor barat dan tengah wilayah selatan.
Di darat, pasukan infanteri Israel melepaskan tembakan senapan mesin ke arah pinggiran Al-Mansouri, sementara tembakan artileri menghantam pinggiran Majdal Zoun. Dalam insiden terpisah, serangan pesawat tanpa awak (drone) menghantam kota Deir Qanoun Ras Al-Ain.
Padahal pada hari Jumat, seorang pejabat AS kepada AFP menyatakan bahwa gencatan senjata segera antara Israel dan Hezbollah telah berhasil dimediasi oleh AS dan Qatar setelah melakukan pembicaraan intensif dengan Israel dan Iran. Seorang diplomat Teluk juga telah mengonfirmasi kesepakatan damai tersebut.
Duta Besar Israel untuk AS sempat menyatakan bahwa negaranya berkomitmen mematuhi gencatan senjata asalkan Hezbollah juga menghormatinya. Namun, rentetan pengumuman gencatan senjata sebelumnya terbukti minim dampak dalam menghentikan konflik kedua belah pihak.
Pengumuman gencatan senjata ini sejatinya keluar di tengah laporan Kementerian Kesehatan Lebanon bahwa serangan udara dan pemboman Israel di wilayah selatan dan timur telah menewaskan 47 orang pada hari Jumat—kekerasan terburuk sejak Washington dan Teheran menyetujui kesepakatan untuk menghentikan perang Timur Tengah yang lebih luas minggu ini. Kesepakatan itu seharusnya juga menghentikan pertempuran antara Israel dan Hezbollah di Lebanon.
Di sisi lain, militer Israel pada hari Jumat mengklaim empat tentaranya tewas, dan melaporkan telah melakukan lebih dari 150 serangan ke Lebanon yang diklaim menewaskan "puluhan teroris Hezbollah."
Masih pada hari Jumat, Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa gencatan senjata yang komprehensif sangat diperlukan agar pembicaraan dengan Israel dapat mengalami kemajuan.
Di bawah tekanan AS, Lebanon pada bulan April lalu memang telah memulai pembicaraan langsung dengan Israel di Washington yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan dan memisahkan konflik Israel-Hezbollah dari perang regional. Menurut Departemen Luar Negeri AS, perundingan putaran kelima dijadwalkan akan dimulai pada hari Selasa depan.
Sejumlah pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, berulang kali menyatakan kekecewaan mereka atas operasi militer Israel di Lebanon. Kendati demikian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Jumat menegaskan kembali bahwa pasukan Israel akan tetap bertahan di Lebanon Selatan "selama mutlak diperlukan."
Seperti diketahui, Hezbollah menyeret Lebanon ke dalam pusaran perang Timur Tengah pada awal Maret lalu melalui serangan roket ke Israel. Langkah itu diklaim sebagai aksi balas dendam atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran akibat serangan udara gabungan AS-Israel. Israel kemudian membalasnya dengan kampanye serangan udara besar-besaran dan invasi darat.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Serangan Israel Perang Lebanon Lebanon Israel Hizbullah Lebanon
























