Sanksi tersebut diumumkan oleh negara-negara Pusat Penargetan Pembiayaan Teroris (TFTC), yang mencakup Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab
Zarif menambahkan, Iran tidak akan pernah menerima pendekatan zero sum game (satu dapat manfaat, yang lain tidak, Red) untuk memecahkan krisis setelah AS memutuskan meninggalkan kesepakatan nuklir multilateral 2015 antara Iran dan negara adidaya.
Tindakan hukuman Washington secara drastis menghambat kemampuan Iran untuk menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan pasiena.
Iran tidak akan mengalami tekanan ekstra dari sanksi AS dua tahun setelah diberlakukan kembali menyusul penarikan Washington dari perjanjian nuklir Iran.
Pompeo mengatakan sanksi keras Washington terhadap Republik Islam ditujukan untuk memberi orang-orang Iran kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.
Departemen Keuangan AS mengumumkan sudah menciptakan mekanisme kemanusiaan baru untuk memastikan pengiriman makanan dan obat-obatan dapat terus dikirim ke Iran.
Rouhani menekankan bahwa Iran sudah berhasil membalas upaya Washington untuk menargetkan Teheran melalui sanksi ekonomi dan tekanan regional.
Trump meminta negara-negara Eropa untuk menarik warga mereka yang menjadi militan Islamic State Iraq and Syria (ISIS/Daesh) di Suriah.
Penerapan kembali sanksi AS telah mencekik ekonomi Iran, membuat negara itu kesulitan mengakses pasokan medis yang sangat dibutuhkan dan memperburuk tingkat pengangguran yang sebelumnya sudah tinggi.
Asosiasi Perdagangan Minyak Nabati India (SEAI) meminta anggotanya untuk tak lagi membeli minyak kelapa sawit dari Malaysia, sebagai bentuk hukuman karena mengkritik India atas atas kebijakannya terhadap Kashmir.