Dalam rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Partai Demokrat belum memutuskan koalisi dalam menghadapi Pilpres 2019 mendatang. Bagaimana peluang Demokrat berkoalisi dengan Jokowi dan Prabowo Subianto?
Peluang Presiden Jokowi berpasangan dengan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam kontestasi Pilpres 2019 mendatang dinilai sangat tipis.
Kontestasi Pilpres 2019 diharapkan berjalan dengan baik, tanpa adanya politik uang. Seluruh kandidat diingatkan agar tidak menggunakan politik uang untuk meraih kekuasaan.
Wacana calon tunggal dalam kontestasi Pilpres 2019 diduga ada suap atau mahar politik. Sebab, tidak ada makan siang gratis dalam sebuah politik.
Partai Demokrat membuka pintu bagi seluruh warga negara jika ingin menjadi kader, termasuk Presiden Jokowi. Partai Demokrat menyatakan siap untuk berkoalisi dengan seluruh Parpol.
Presiden mendorong pondok pesantren untuk memulai dan memikirkan bisnis yang ada sekitar pondok sehingga bisa mendorong ekonomi umat.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dinilai sudah waktunya untuk tampil sebagai tokoh yang membawa Indonesia lebih maju.
PKS mendorong terbentuknya poros ketiga pada kontestasi Pilpres 2019. Sebab, masyarakat saat ini membutuhkan adanya calon presiden (Capres) alternatif.
Target penerimaan pajak negara dinilai menjadi salah satu solusi pemerintahan Presiden Jokowi untuk mengatasi membengkaknya utang luar negeri yang saat ini mencapai Rp 4.754 triliun per-akhir Februari 2018.
Potensi tiga poros dalam kontestasi Pilpres 2019 terbuka lebar. Hal itu sebagaimana yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta saat menumbangkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai petahana.