Keputusan Rusia memberikan bantuan sistem pertahan canggih, S-300 ke Suriah adalah kesalahan besar.
Tindakan ini dilakukan setelah Rusia menyalahkan Israel yang menembak pesawat militernya pekan lalu.
Dalam beberapa hari terakhir, beberapa warga Palestina telah mengadakan protes di Jalur Gaza dan Israel. Pada sore hari tanggal 23, puluhan orang Palestina membakar ban dekat pagar isolasi di perbatasan dengan Israel di sisi timur Jalur Gaza, menerbangkan layang-layang dan balon dengan bahan-bahan yang mudah terbakar ke Israel.
Perwakilan Tetap AS untuk PBB mengatakan Israel bukan negara penyebab konflik dan ketidakstabilan di Timur Tengah, tapi Iran.
Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoygu mengklaim Israel bertanggung jawab, yang kemudian dibantah Israel. Militer Israel menyalahkan Hizbullah dan Iran atas insiden itu.
nasib personil militer belum diketahui, namun pihak kementerian mengatakan bahwa pencarian pesawat sedang berlangsung.
Pejabat tersebut menambahkan AS tidak terlibat dalam negosiasi antara pemerintah Turki dan Rusia yang diadakan di Sochi, Rusia, dan membahas masa depan Provinsi Idlib di barat laut Suriah.
Iran tidak akan melakukan negosiasi tentang kemampuan pertahanannya. Apalagi soal program rudal dan nuklirnya.
Jet Israel juga menghancurkan toko senjata di bandara Damaskus.
AS akhiri program bantuan jutaan dollar yang membangun hubungan antara warga Israel, Palestina, menurut laporan New York Times.