Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sangat lihai menysusupi informasi salah kepada Presiden Donald Trump untuk mendapatkan keunggulan.
Dari 92 persen suara dihitung, Partai Likud dan Partai Biru dan Putih masing-masing mendapatkan 31 dan 32 kursi parlemen.
Netanyahu berikrar jika berhasil memenangkan pemilihan umum 17 September, maka ia akan mencaplok sejumlah wilayah di Tepi Barat, termasuk Laut Mati dan Lembah Yordania.
Trump lebih lanjut menyuarakan kesediaan untuk bertemu Netanyahu di sela-sela sesi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendatang di New York.
Juru bicara Likud, mengatakan, kicauan tersebut murni kesalahan staf.
Donald Trump belum menegur Israel, dan tidak ada konsekuensi atas perilaku rezim.
Kementerian Luar Negeri Rusia memperingatkan bahwa implementasi rencana Netanyahu dapat memantik ketegangan yang sudah parah di wilayah tersebut.
Para menteri luar negeri yang tergabung dalam Liga Arab mengecam rencana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, untuk mencaplok (aneksasi) Tepi Barat.
Zarif mengunggah video yang menunjukkan Netanyahu menggalakkan invasi Afghanistan sebelum realisasinya pada tahun 2001 selama sidang kongres di Washington.
Barrett mengatakan ketika Presiden AS Donald Trump mengambil alih kekuasaan, Netanyahu merayakannya karena sekarang memiliki Kantor Oval, dan menghasut Washington menghancurkan JCPOA.