Pengamat politik Rafif Pamenang Imawan menilai pertemuan Presiden terpilih Jokowi dengan Prabowo Subianto membuat kelompok radikal atau kelompok yang tidak mendukung demokrasi menjadi tersudut.
Presiden Jokowi dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sudah mengakhiri rivalitas mereka dengan cara yang sangat elegan. Keduanya menyampaikan pesan damai dan mendorong semua komunitas untuk menyudahi polarisasi di tengah masyarakat.
Syarief Abdullah Alkadrie memberi apresiasi pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto di Stasiun MRT Lebak Bulus
Pertemuan Jokowi dan Prabowo mengakhiri seluruh rivalitas yang terjadi selama ini. Termasuk para milenial generasi now.
Pertemuan itu membantu mempercepat hiling atau penyembuhan pasca kompetisi pemilu yang sedemikan panjang dan menimbulkan polarisasi.
Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto telah menyepakati akan saling berkomunikasi dan mengunjungi.
Kalau ada ulama ataupun habaib yang masih saja menganggap pemilu belum selesai, dapat dipastikan hati mereka masih kotor.
Pertemuan tersebut menjadi ukuran peningkatan kualitas demokrasi di Indonesia.
Tidak ada lagi yang namanya cebong. Tidak ada lagi yang namanya kampret. Yang ada adalah Garuda Pancasila.
Baik Pak Jokowi maupun Pak Prabowo sama-sama memiliki jiwa kenegarawanan sejati