Seruan Hatami untuk pengusiran pasukan AS datang seminggu setelah Washington membunuh komandan anti-teror paling menonjol di Timur Tengah, Letnan Jenderal Qassem Soleimani di Irak.
Puluhan rudal permukaan ke permukaan ditembakkan di pangkalan udara strategis AS. Serangan itu kemudian dikonfirmasi oleh para pejabat Washington.
Tujuan utama Washington dalam melakukan kejahatan membunuh Jenderal Soleimani dan Muhandis adalah untuk mengkonsolidasikan hegemoni atas Irak dengan meneror rakyat Irak.
Putri sang jenderal, Zainab, dalam kerumunan peziarah mengecam Washington dan mengancam akan melakukan serangan balasan terhadap tentara AS yang ada di Timur Tengah.
Dalam pernyataan, Trump mengatakan, jika pasukannya pergi, maka Irak harus membayar Washington atas pembangunan pangkalan udara di sana.
Kekuatan global memperingatkan agar seluruh pihak menahan diri, mengingat genderang perang sudah ditabuh oleh Washington di Timur Tengah.
Serangana itu tidak dapat diterima, merusak dan bertentangan dengan perjanjian antara Baghdad dan Washington.
Korea Utara berjanji akan melakukan uji coba rudal "kejutan Natal" jika AS tidak datang ke meja perundingan. Pyongyang mencatat tidak akan menyerah pada tekanan Washington karena sudah tidak ada ruginya.
Kharrazi mengatakan Rusia dan China sudah melakukan upaya positif mencegah jatuhnya kesepakatan nuklir (Rencana Aksi Komprehensif Bersama/JCPOA), yang ditandatangani antara Iran dan negara adidaya pada 2015 setelah keluarnya Washington.
Korea Utara telah menetapkan akhir 2019 sebagai batas waktu bagi Washington untuk mengambil tindakan timbal balik atau membatalkan pembicaraan denuklirisasi.