Pahlawan yang tidak kalah pentingnya selain dokter di rumah sakit dalam menghadapi Covid-19 adalah petani.
Keuntungan dari budidaya sistem salibu, di antaranya jangka waktu yang relatif lebih pendek dan kebutuhan air lebih sedikit.
Penyuluh pertanian makin gencar mengawal petani melakukan percepatan tanam dengan memanfaatkan ketersediaan air di tengah ancaman musim kemarau.
FAO menyatakan setelah pandemi virus corona baru (COVID-19) ini akan terjadi krisis pangan dunia.
Indonesia memiliki potensi lahan rawa sebesar 33.4 juta hektare, namun terdapat beberapa faktor pembatas dalam pengelolaannya.
Badan Pangan Dunia (FAO) memberikan peringatan bahwa dampak pandemi virus corona (COVID-19) dunia akan mengalami krisis pangan.
Januari-April lalu, ekspor hasil pertanian meningkat sebesar 15,15 persen.
Lahan yang bisa digunakan untuk intensifikasi ada 1,8 Juta Hektare lahan pertanian di 3,2 Juta Hektare kawasan transmigrasi.
Tercatat di tahun 2020 sebanyak 145 kali eksportasi dibandingkan 36 kali di tahun lalu, dan 55 eksportir yang tercatat di triwulan pertama dibandingkan 18 pelaku usaha dibidang agribisnis asal Kaltara di tahun 2019.
FAO mengeluarkan peringatan tentang ancaman krisis panjang akibat musim kemarau yg diprediksi akan terjadi pada puncak Agustus 2020.