Di bawah mantan Presiden Donald Trump, Washington menyenangkan warga Israel dan membuat marah warga Palestina dengan menutup konsulat Yerusalem dan menempatkan stafnya di Kedutaan Besar AS untuk Israel yang dipindahkan ke Yerusalem dari Tel Aviv pada 2018.
Wawancara menteri itu dilakukan setelah komentar dari Menteri Informasi Lebanon George Kordahi tentang perang Yaman memicu perselisihan diplomatik dengan negara-negara Teluk.
B-1B Lancer melewati Teluk Arab, selat Bab Al-Mandeb, Terusan Suez, Teluk Oman, dan Selat Hormuz. Itu juga disertai dengan pesawat militer dari Mesir, Bahrain dan Israel.
Kerajaan mengulangi larangan sebelumnya pada warga yang bepergian ke Lebanon untuk kepentingan keselamatan mereka mengingat meningkatnya ketidakstabilan di negara itu.
Israel tetap pada rencannya membangun membangun sekitar 3.000 rumah bagi pemukim Yahudi di Tepi Barat yang diduduki, menentang kritik terkuat pemerintah Biden hingga saat ini terhadap proyek-proyek tersebut.
Amerika Serikat (AS) prihatin dengan terbitnya tender pada Minggu untuk 1.300 unit permukiman di sejumlah permukiman Tepi Barat
Mesir dan Yordania sampai tahun lalu menjadi satu-satunya dua negara Arab yang menormalkan hubungan dengan Israel.
Pengumuman pada Minggu dari Kementerian Konstruksi dan Perumahan di pemerintahan sayap kanan Perdana Menteri Naftali Bennett mengatakan tender telah diterbitkan untuk 1.355 rumah di Tepi Barat, yang direbut oleh Israel selama Perang Enam Hari 1967.
Keputusan tersebut mempengaruhi 2.800 mantan penduduk Jalur Gaza yang meninggalkan wilayah itu, setelah militan Islam Hamas merebutnya dalam pertempuran internal Palestina pada 2007.
Setiap tahun saat ini para pemukim menyerbu provinsi Nablus dan mencuri buah zaitun matang, menebang pohon dan membakarnya.