Delapan tahun lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pernah memperingatkan pendahulunya, Barack Obama supaya tidak "memainkan kartu Iran" untuk kepentingan kampanye.
Puluhan rudal permukaan ke permukaan ditembakkan di pangkalan udara strategis AS. Serangan itu kemudian dikonfirmasi oleh para pejabat Washington.
Tujuan utama Washington dalam melakukan kejahatan membunuh Jenderal Soleimani dan Muhandis adalah untuk mengkonsolidasikan hegemoni atas Irak dengan meneror rakyat Irak.
Trump menunjukkan ketidakpatuhannya terhadap hukum internasional dengan mengancam akan menyerang situs-situs penting yang terkait dengan Iran, jika Teheran berusaha membalasa kematian Jenderal Soleimani.
Mahathir mendesak negara Muslim bersatu untuk melindungi diri dari ancaman eksternal.
Zarif selanjutnya mengecam Presiden AS, Donald Trump karena mengancam menyerang 52 situs dan kebudaya Iran, jika Teheran membalas pembunuhan Jenderal Soleimani.
Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) tidak akan menuruti keinginan Presiden Donald Trump, untuk meledakkan 52 situs budaya bersejarah milik Iran.
Pemerintahan Trump membuat kesepakatan serupa dengan Honduras dan El Salvador tahun lalu .
Rouhani mengingatkan Trump tentang kejahatan yang dilakukan Angkatan Laut AS pada 1988 di mana USS Vincennes menghantam Airbus A300B2 Iran Air
Letnan Jenderal Soleimani adalah tokoh internasional yang memainkan peran utama dalam mempromosikan keamanan di negara-negara kawasan, khususnya di Irak dan Suriah.