Akhir November 2017, Pyongyang menembakkan rudal balistik antarbenua Hwasong-15.
Korea Utara selama bertahun-tahun berada di bawah serangkaian sanksi keras yang dijatuhkan AS dan PBB untuk program-program rudal balistik nuklir dan balistiknya.
Ini berarti Korut harus menghapus seluruh program senjata pemusnah massal di Pyongyang, termasuk rudal balistik antarabenua.
Iran mengatakan memiliki rudal dengan jangkauan hingga 2.000 km, yang mampu menjangkau pangkalan militer Israel dan Amerika Serikat (AS) di wilayah itu.
Iran mengatakan memiliki rudal dengan jangkauan hingga 2.000 km, yang mampu menjangkau pangkalan militer Israel dan Amerika Serikat (AS) di wilayah itu.
Pyongyang menggunakan fasilitas sipil, termasuk bandara, untuk perakitan rudal balistik dan pengujian dengan tujuan untuk mengkelabui publik.
Uni Eropa (UE) telah mengeluarkan peringatan keras kepada Iran tentang perkembangan pengujian rudal balistik dan perilakunya di wilayah yang lebih luas.
Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Yves Le Drian mengatakan bahwa Prancis siap untuk menjatuhkan sanksi lebih lanjut terhadap Iran jika tidak ada kemajuan dalam pembicaraan mengenai program rudal balistiknya
Sedari dulu program balistik Iran terus membuat Prancis cemas dan juga komunitas internasional.
Juru bicara militer utama Iran mengatakan negaranya akan terus melakukan uji coba rudal untuk membangun kemampuan pertahanan dan deterensinya meskipun ada sanksi Amerika Serikat.