Peristiwa baru-baru ini setelah Amerika Serikat (AS) membunuh komandan Iran adalah peristiwa unik dalam sejarah.
Pernyataan terakhir Perwakilan Khusus AS untuk Iran Brian Hook adalah publikasi resmi dan penyingkapan terang-terangan terorisme sasaran dan negara AS.
Ketegangan antara Iran dan AS membara setelah Gedung Putih membunu Jenderal Qassem Soleimani di Irak dan respons Republik Islam terhadap langkah teroris dengan serangkaian rudal balistik yang menghantam dua pangkalan AS di Irak
Sarker (40) ditahan di pusat kota Mirzapur pada Sabtu (11/1), menurut keterangan kepala polisi setempat Saidur Rahman
Setelah Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) menghujani rudal dua pangkalan AS di Irak pada Rabu (8/1), Trump langsung menawarkan negosiasi dengan Republik Islam Iran.
Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad menyambangi kediaman Duta Besar Republik Islam Iran untuk Republik Indonesia, Mohammad Khosh Heikal Azad di Ambassador Residence, Jl Madiun 1 depan masjid sunda kelapa guna menyampaikan bela sungkawa atas kematian Jenderal Militer Qasem Soleimani.
Agresi AS yang menewaskan Jenderal Soleimani membawa Gedung Putih ke jurang perang panas pertama dengan Iran sejak Revolusi Islam tahun 1979.
Dalam pidato yang disiarkan langsung, Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei menyoroti kehadiran militer AS yang sumber masalah di wilayah tersebut untuk segera angkat kaki.
Kalau dari sudut pandang kaum Muslimin sendiri, islamofobia artinya kaum Muslimin malu dan takut mengaku Islam
Kematian Soleimani tidak akan menghentikan misinya, justru para penjahat yang memiliki "darah" Soleimani dan para martir lainnya yang tewas dalam serangan tersebut akan memberikan pembalasan yang mengerikan.