Akhir November 2017, Pyongyang menembakkan rudal balistik antarbenua Hwasong-15.
Proses denuklirisasi pun mandek sejak perundingan Washington-Pyongyang Februari lalu tak mencapai kesepakatan apapun.
Rusia telah menyerukan Gedung Putih agar sanksi-sanksi yang diberlakukan terhadap Korea Utara dikurangi. Namun, AS menuduhnya berusaha membantu Pyongyang menghindari sanksi.
Kim Jong un akan bertemu Putin pada Kamis (25/4)di pelabuhan Vladivostok Rusia Pasifik Rusia untuk membahas kebuntuan tentang program nuklir Pyongyang.
Moon mengatakan tidak akan menginginkan Pyongyang dan Washington untuk menghentikan dialog terlalu lama, dan dia percaya bahwa kedua belah pihak akan mencapai kesepakatan pada akhirnya.
Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong Ho, Pyongyang hanya menuntut pencabutan sebagian sanski sebagai imbalan untuk menutup kompleks nuklir utamanya.
Ini berarti Korut harus menghapus seluruh program senjata pemusnah massal di Pyongyang, termasuk rudal balistik antarabenua.
Pyongyang menggunakan fasilitas sipil, termasuk bandara, untuk perakitan rudal balistik dan pengujian dengan tujuan untuk mengkelabui publik.
Di hadapan Komite Intelijen Senat, Direktur Intelijen Nasional Dan Coats membeberkan bahwa Pyongyang tidak sepenuhnya setuju melakukan denuklirisasi.
Kepada wartawan di Washington DC, pasangan Melania itu mengatakan, "dialog yang baik" sedang berlangsung dengan Korea Utara, tetapi sanksi terhadap Pyongyang akan tetap ada.