Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bakal menggelar tiga konvensi nasional secara berangkaian di Surabaya pada 9 hingga 13 November 2026.
Tiga perhelatan besar tersebut yaitu Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI), Konvensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI), serta Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Indonesia (KJTI).
Dirjen Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman mengatakan untuk Perhelatan KSTI 2026 dijadwalkan berlangsung pada 10 hingga 13 November 2026 bertempat di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
"Kalau olahraga itu ada PON, kalau sains itu kita ada KSTI," kata Fauzan dalam taklimat media di Gedung Kemdiktisaintek Jakarta, Senin (2/11).
Ia mengatakan bahwa KSTI 2026 akan memamerkan sekitar 490 hingga 500 produk riset domestik yang dihadirkan langsung bersama para inventornya.
"Kunci dari ekspo kami itu hanya ada dua hal, aspek masalah dan solusi. Jadi nanti kita akan mengedepankan masalah apa sih sebetulnya yang ingin kita pecahkan," kata dia.
KSTI juga akan menghadirkan robot challenge, hackathon, diskusi panel ahli, business matching, dan innovation tour. Selain itu, KSTI ditujukan akan menghasilkan policy brief dan foresight sebagai masukan bagi perumusan kebijakan dan arah pengembangan riset ke depan.
Pembahasannya mencakup kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, teknologi frontier, sosial humaniora, hingga ketahanan bencana.
Perkuat Kontribusi Perguruan Tinggi Melalui KPPTI 2026
Sementara itu, Dirjen Dikti Khairul Munadi menyampaikan bahwa KPPTI 2026 akan diselenggarakan pada 11–13 November 2026 di Universitas Airlangga.
KPPTI 2026 melanjutkan penyelenggaraan tahun 2025 yang menghasilkan Surabaya Message dan lebih dari seratus nota kesepahaman antarkampus, baik perguruan tinggi negeri, swasta, maupun perguruan tinggi kementerian/lembaga.
Pada tahun ini, pembahasan diarahkan pada inisiatif yang lebih transformatif dan penguatan kontribusi perguruan tinggi melalui empat pilar, yakni akses, mutu, relevansi, dan dampak.
"Tujuan KPPTI adalah untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi melalui pembelajaran bersama dan kolaborasi," ujar Dirjen Khairul.
KJTI 2026 Fokus Perkuat Integritas Publikasi Ilmiah
Melengkapi rangkaian kegiatan tersebut, Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal (KJTI) digelar pada 9 November 2026 dengan menempati posisi pembuka rangkaian.
Dirjen Saintek Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menjelaskan peran strategis konvensi ini dalam memperkuat fondasi publikasi akademik.
"KTCI ini sebetulnya melengkapi KSTI dan juga KPPTI. Namun, melengkapi tapi tempatnya di paling depan," kata Najib.
Ia menyoroti bahwa Indonesia memiliki sekitar 29.000 jurnal dengan 16.000 di antaranya telah terakreditasi, namun kualitasnya masih perlu didorong secara signifikan.
"Sinta 1 itu hanya sekitar 1,5% daripada total 16.000 jurnal yang kita miliki," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa KJTI 2026 akan berlangsung pada 9 November 2026 di Universitas Ciputra. Mengangkat tema “Memperkuat Integritas Tata Kelola Publikasi Ilmiah Indonesia”, forum ini menjadi penyelenggaraan perdana yang secara khusus membahas ekosistem publikasi dan produksi pengetahuan di perguruan tinggi.
Dirjen Najib menyampaikan bahwa Indonesia memiliki sekitar 29 ribu jurnal ilmiah, dengan sekitar 16 ribu di antaranya telah terakreditasi. Namun, jumlah jurnal pada peringkat akreditasi tertinggi masih terbatas. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya penguatan kualitas tata kelola, kredibilitas, dan integritas publikasi ilmiah nasional.
"Jadi meskipun kita memiliki banyak jurnal, sebetulnya dari segi kualitas itu mungkin yang berdasarkan kategori SINTA, yang SINTA 1 itu hanya 1,5% dari total 16 ribu jurnal yang kita miliki," kata Najib.





