News

NLR Indonesia Gencarkan Program Kampanye Pendidikan Inklusif

NLR Indonesia menggencarkan kampanye pendidikan inklusif melalui gerakan We Ring the Bell.
Kegiatan kampanye pendidikan inklusif yang diselenggarakan NLR Indonesia (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - NLR Indonesia terus memperkuat komitmen pemenuhan hak anak dengan disabilitas melalui kampanye pendidikan inklusif. Lewat program Welcome to School dan gerakan We Ring the Bell, NLR Indonesia mendorong terwujudnya lingkungan sekolah yang aman, aksesibel, serta mampu memfasilitasi perkembangan seluruh peserta didik tanpa stigma maupun diskriminasi.

Kegiatan yang diselenggarakan pada 28–31 Oktober 2026 di Surabaya ini melibatkan pekerja Community-Based Rehabilitation (CBR), kepala sekolah, guru sekolah mitra, hingga jajaran staf internal organisasi.

Langkah advokasi berbasis bukti ini ditujukan untuk mengidentifikasi berbagai hambatan yang dihadapi anak dengan disabilitas maupun dampak kusta di lingkungan pendidikan. Melalui keterlibatan langsung seluruh pemangku kepentingan, suara dan pengalaman anak dijadikan sebagai pijakan utama dalam merumuskan perbaikan layanan sekolah.

Melalui pendekatan partisipatif Welcome to School, para peserta diajak untuk mengenali serta memetakan berbagai hambatan di lingkungan pendidikan formal.

Pemetaan ini mencakup kemudahan aksesibilitas fisik, kelancaran proses pembelajaran, komunikasi, interaksi sosial antar siswa, serta ketersediaan sarana pendukung dan akomodasi yang layak.

Hasil dari identifikasi lapangan tersebut kemudian disusun menjadi rencana tindak lanjut sekolah agar setiap anak tidak sekadar hadir di kelas, tetapi juga dapat berpartisipasi secara aktif dan bermakna.

Manager Program Diversity, Equity & Inclusion Workstream NLR Indonesia, Fahmi Arizal, menekankan perlunya memperkuat peran rehabilitasi bersumberdaya masyarakat dalam menjembatani anak dan orang muda dengan disabilitas dan kusta, keluarga, serta pihak sekolah. Dia menekankan pentingnya mengambil langkah nyata dari hasil temuan tersebut.

"Melalui pendekatan partisipatif Welcome to School dan kampanye We Ring the Bell, kami mengajak sekolah, pemerintah, mitra, dan masyarakat untuk tidak berhenti pada membangun kesadaran, tetapi mengambil langkah nyata menghilangkan hambatan pendidikan, menyediakan dukungan dan akomodasi yang layak, serta memastikan setiap anak dapat belajar, berpartisipasi, dan berkembang tanpa diskriminasi," kata Fahmi Arizal.

"Mari jadikan suara anak sebagai dasar perubahan dan wujudkan pendidikan inklusif sebagai tanggung jawab bersama," dia menambahkan.

Menggema di Ruang Publik Melalui Gerakan We Ring the Bell

Hasil temuan dan rekomendasi dari program Welcome to School selanjutnya diangkat ke ruang publik melalui seruan aksi We Ring the Bell. Gerakan internasional yang diusung oleh Liliane Fonds sejak 2015 ini telah menyuarakan hak pendidikan inklusif di lebih dari 20 negara.

Pembunyian lonceng dalam aksi ini menjadi simbol desakan bagi pemerintah, sekolah, dan masyarakat luas agar segera merespons serta mengatasi berbagai hambatan pendidikan anak disabilitas.

Pada 2026, kampanye ini mengusung tema Ringing the Bell for Financing Inclusive Play-Based Early Childhood Education (IPECE) yang menekankan pentingnya pendanaan pendidikan anak usia dini berbasis bermain. Sejumlah praktisi pendidikan dan pekerja lapangan turut memberikan dukungan atas terselenggaranya kolaborasi ini.

Pekerja CBR SCN Kota Palu, Tazkia Aulia Ahfsary, menekankan pentingnya kerja kolaboratif untuk menyatukan perspektif baik dari pemangku kebijakan, pelaksana, hingga pengawas agar pendidikan inklusif di Indonesia dapat tercapai.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDI Naikoten 1 Kupang, Maya Christine Ndoen, mengaku sangat senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan di Surabaya. "Saya berharap dapat bekerja dengan hati dan berkolaborasi sehingga anak-anak dapat nyaman bersekolah serta dapat menyuarakan kebutuhan mereka dalam mengenyam pendidikan," tutur Maya.