La Paz, Jurnas.com - Presiden Bolivia, Rodrigo Paz, mengumumkan darurat nasional imbas fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan dan banjir di banyak wilayah. Keputusan tersebut dilakukan guna membebaskan seluruh sumber daya yang ada selama penanganan.
Dalam pidatonya yang dikutip dari AFP pada Minggu (1/11), Paz menyerukan pengerahan lebih banyak tim penyelamat di daerah-daerah yang terkena dampak parah, di saat Bolivia bergulat dengan banjir dan kekeringan akibat El Nino.
"Ini akan menjadi fenomena yang akan berdampak sangat parah dalam hal kekeringan dan banjir, dan kita membutuhkan kerja sama dari semua lembaga," kata Paz.
Menurut laporan pemerintah, kekeringan yang terjadi selama El Nino juga berdampak pada 78.000 keluarga di enam dari sembilan wilayah administratif, serta menyebabkan lebih dari 75.000 ekor sapi mati.
Diketahui, El Nino menghangatkan suhu permukaan di Samudra Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur, dan membawa perubahan di seluruh dunia pada pola angin, tekanan, dan curah hujan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan pekan ini bahwa El Nino saat ini berpotensi memiliki kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang akan membawa malapetaka ke Amerika Latin, Afrika bagian timur dan selatan, Asia, dan Pasifik.
Di antara negara-negara tetangga Bolivia, Peru mengalami peningkatan suhu dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang telah merenggut nyawa setidaknya 12 orang.
Sebaliknya, Chile mengalami Oktober dengan curah hujan tertinggi yang pernah tercatat di ibu kota Santiago, yakni curah hujan 74 milimeter dalam tujuh hari pertama, menjadikannya awal Oktober paling basah dalam 76 tahun terakhir.
Bencana ini berdampak pada banyak hal, termasuk puluhan kendaraan tertimbun lumpur, batu, dan kayu. Juga, lebih dari 1.000 warga dievakuasi, dengan enam orang di antaranya mengalami luka-luka.






