News

El Nino Ancam Produksi Pangan, Riyono Minta Bulog Siaga

petani lokal sebagai petani yang menjadi tolok ukur utama, kesejahteraan petani di wilayah perdesaan itu yang harus menjadi perhatian pemerintah

Jakarta, Jurnas.com - Anggota Komisi IV DPR RI Riyono meminta pemerintah memperkuat langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman El Nino yang berpotensi menekan produksi pertanian.

Ketersediaan stok, kelancaran distribusi, penguatan cadangan, hingga keterjangkauan pangan bagi masyarakat harus menjadi prioritas.

Riyono menilai, dampak cuaca ekstrem terhadap produksi pangan perlu diantisipasi sejak dini. Meski penurunan produksi berpotensi terjadi, cadangan pangan nasional saat ini dinilai masih mampu menjadi penyangga kebutuhan masyarakat.

“Bagaimana dengan kondisi musim El Nino yang cukup keras ini, tentu kemungkinan adanya penurunan produksi pasti ada, tetapi tentu kita akan mengikuti sejauh mana kemudian penurunan ini sampai di angka berapa persen,” kata Riyono dalam keterangan persnya, Rabu (28/10).

Ia memperkirakan, sekalipun produksi pangan mengalami penurunan hingga 20 persen, persediaan nasional masih cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu tertentu.

“Katakanlah misalkan sampai angka 20 persen pun untuk saat ini dengan cadangan pangan nasional yang kita miliki, ini masih cukup untuk kebutuhan minimal 5-10 bulan ke depan,” ujarnya.

Meski demikian, Riyono mengingatkan agar kondisi cadangan yang relatif aman tidak membuat pemerintah lengah. Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) diminta segera menyiapkan langkah mitigasi, terutama di 86 wilayah yang masuk kategori daerah defisit pangan.

Menurutnya, daerah-daerah tersebut membutuhkan perhatian khusus karena lebih rentan menghadapi gangguan pasokan dan lonjakan harga, terutama wilayah di luar pulau yang bergantung pada distribusi dari daerah sentra produksi.

“Ini menjadi sangat penting karena daerah-daerah inilah yang memunculkan potensi kenaikan-kenaikan harga yang lebih besar dibanding dengan daerah-daerah produksi pangan,” ungkapnya.

Riyono menekankan, upaya menjaga ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan besarnya cadangan nasional. Pemerintah juga harus memastikan distribusi berjalan lancar agar pasokan dapat menjangkau masyarakat di daerah yang rawan kekurangan pangan.

Di sisi lain, ia meminta kesejahteraan petani lokal, khususnya di wilayah perdesaan, menjadi perhatian utama pemerintah. Petani dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional, terlebih ketika sektor pertanian menghadapi ancaman kekeringan berkepanjangan.

“Oleh karena itu, petani lokal sebagai petani yang menjadi tolok ukur utama, kesejahteraan petani di wilayah perdesaan itu yang harus menjadi perhatian pemerintah,” tegas Riyono.

Ia berharap, langkah antisipasi yang terencana dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan sekaligus melindungi petani dari dampak perubahan cuaca ekstrem. Dengan begitu, ketahanan pangan nasional tetap terjaga dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.