Jakarta, Jurnas.com - Paus Leo XIV menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan paruh waktu atau midterm elections Amerika Serikat yang digelar pekan depan. Langkah tersebut dilaporkan menjadi peristiwa bersejarah karena Leo disebut sebagai paus pertama yang masih menjabat dan memberikan suara dalam pemilihan umum di negara demokratis dan sekuler.
Vatikan mengumumkan pada Jumat (30/10) bahwa Paus Leo XIV telah mengirimkan surat suara melalui pos dari Chicago, Amerika Serikat. Leo merupakan paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat dan tetap memiliki kewarganegaraan negara tersebut.
“Bapa Suci telah menyerahkan surat suara melalui pos di Chicago,” demikian pernyataan Vatikan dikutip Anadolu.
Vatikan juga menyampaikan bahwa keputusan Leo menggunakan hak pilih mencerminkan pandangannya mengenai pentingnya partisipasi warga dalam kehidupan demokrasi.
“Bapa Suci menyampaikan keyakinannya bahwa warga negara memiliki hak sekaligus kewajiban untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi,” lanjut pernyataan tersebut.
Sejarawan Inggris sekaligus pakar kepausan, Michael Walsh, menilai partisipasi Leo berpotensi menjadi yang pertama dalam sejarah kepausan. Ia mengaku belum mengetahui adanya paus yang pernah memberikan suara dalam pemilihan demokratis sebelumnya.
“Saya kira belum pernah ada paus yang memberikan suara dalam pemilihan demokratis sebelumnya,” kata Walsh kepada CNN.
Berdasarkan catatan pemilih, Leo XIV terdaftar sebagai pemilih di New Lenox, sebuah kawasan pinggiran Chicago, tempat tinggal saudaranya, John. Ia menggunakan mekanisme pemungutan suara melalui pos yang lazim diterapkan dalam pemilu Amerika Serikat, bergantung pada aturan di masing-masing negara bagian.
Sebelum terpilih menjadi Paus Leo XIV pada Mei 2025, pria yang lahir dengan nama Robert Francis Prevost itu tercatat pernah mengikuti pemilihan pendahuluan Partai Republik dan Partai Demokrat. Ia juga menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan presiden AS 2024.
Sejak menjabat sebagai pemimpin Gereja Katolik, Leo XIV beberapa kali mendorong masyarakat untuk terlibat dalam kehidupan kewarganegaraan dan menyuarakan pandangan mengenai isu-isu publik. Salah satunya ketika ia menyerukan agar masyarakat menyampaikan sikap terkait perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Leo juga pernah terlibat perbedaan pandangan secara terbuka dengan pemerintahan Presiden Donald Trump, terutama terkait penanganan konflik tersebut dan kebijakan imigrasi yang lebih ketat. (*)
Sumber: Anadolu





