News

Nyeri Perut Selama 3 Tahun, Wanita Ini Ternyata Menyimpan Janin Membatu

Bagikan:FacebookX
Saat menelusuri riwayat kesehatannya, dokter mengetahui bahwa sekitar tiga tahun sebelumnya, perempuan itu mengalami sejumlah gejala yang menyerupai kehamilan
Ilustrasi : Kasus Langka Bayi Batu Terungkap setelah Wanita 42 Tahun Mengeluh Nyeri Perut (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Seorang perempuan berusia 42 tahun di Somaliland, Afrika, mengalami nyeri perut bagian bawah selama tiga tahun sebelum dokter menemukan penyebab yang sangat langka. Di dalam rongga perutnya terdapat janin yang telah mengalami pengapuran hingga membentuk massa keras, kondisi medis yang dikenal sebagai lithopedion atau “bayi batu”.

Kasus ini terungkap setelah perempuan tersebut mendatangi rumah sakit karena nyeri tumpul yang berlangsung lama dan sensasi berat di perut yang semakin memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan massa keras dengan bentuk tidak beraturan yang membentang hingga ke sekitar pusar dan hampir tidak bergerak ketika disentuh.

Saat menelusuri riwayat kesehatannya, dokter mengetahui bahwa sekitar tiga tahun sebelumnya, perempuan itu mengalami sejumlah gejala yang menyerupai kehamilan. Perutnya membesar secara bertahap dan ia merasakan sesuatu seperti gerakan janin. Namun, gerakan tersebut kemudian berhenti, pembesaran perut tidak berlanjut, dan ukurannya perlahan menyusut.

Perempuan itu tidak pernah memeriksakan diri selama maupun setelah kejadian tersebut. Tiga tahun kemudian, keluhan nyeri dan rasa berat di perut membawanya ke rumah sakit.

Hasil pemeriksaan darah menunjukkan anemia ringan, sementara jumlah sel darah putih serta fungsi ginjal dan hati berada dalam kondisi normal. Tes kehamilan juga menunjukkan hasil negatif.

Pemeriksaan ultrasonografi atau USG kemudian menemukan massa yang mengalami pengapuran, sementara rahim pasien dalam keadaan kosong. Untuk mengetahui bentuk dan struktur massa secara lebih terperinci, dokter melakukan pemindaian tomografi terkomputasi atau CT scan yang menghasilkan gambaran tiga dimensi.

Hasil pemindaian memperlihatkan struktur kerangka janin yang dapat dikenali dengan jelas, termasuk tengkorak, tulang belakang, tulang rusuk, serta tulang lengan dan kaki. Massa tersebut berukuran sekitar 18 x 13 sentimeter.

Bagaimana janin bisa membatu di dalam perut? Dokter mendiagnosis kondisi tersebut sebagai lithopedion. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yakni lithos yang berarti batu dan paidion yang berarti anak.

Kondisi langka ini umumnya berawal dari kehamilan ektopik abdominal, yaitu ketika embrio menempel dan berkembang di rongga perut, bukan di dalam rahim sebagaimana kehamilan pada umumnya.

Kehamilan abdominal sangat berisiko karena embrio dapat berada di dekat organ-organ penting, seperti lambung, ginjal, dan usus buntu. Perlekatan plasenta pada organ serta pembuluh darah di rongga perut juga dapat memicu perdarahan internal yang mengancam nyawa ibu.

Dalam kasus lithopedion, janin yang berkembang di luar rahim dapat meninggal ketika ukurannya sudah terlalu besar untuk diuraikan dan diserap secara alami oleh tubuh. Jaringan yang tertinggal kemudian dapat memicu respons tubuh berupa pengendapan kalsium secara bertahap di sekitar sisa janin.

Proses pengapuran tersebut membentuk lapisan keras yang membungkus jaringan yang tertinggal. Mekanisme ini dapat membantu tubuh mengisolasi jaringan tersebut, tetapi tidak menghilangkan risiko komplikasi maupun menjamin bahwa pasien terbebas dari gejala.

Pada perempuan di Somaliland tersebut, dokter menduga massa janin yang mengalami pengapuran menjadi penyebab nyeri perut kronis dan sensasi berat yang terus dirasakannya.

Untuk menangani kondisi tersebut, tim medis melakukan operasi melalui rongga perut guna mengangkat seluruh massa janin yang telah mengalami pengapuran dari area panggul.

Sehari setelah operasi, pasien mengalami demam ringan dan mual. Kedua keluhan tersebut mereda setelah mendapatkan penanganan medis. Kondisinya kemudian tetap stabil dan terus membaik hingga diperbolehkan pulang dari rumah sakit dalam keadaan baik.

Pemantauan selama enam bulan setelah operasi menunjukkan proses pemulihan berjalan dengan baik. Nyeri perut yang sebelumnya berlangsung selama tiga tahun juga menghilang sepenuhnya.

Kasus ini tergolong sangat langka. Literatur medis mencatat sekitar 340 kasus lithopedion selama empat abad terakhir, dengan laporan paling awal berasal dari 1582.

Usia pasien yang baru 42 tahun turut membuat kasus ini menonjol. Sejumlah kasus yang lebih baru ditemukan pada perempuan pascamenopause, yang ternyata telah membawa sisa janin yang mengapur selama puluhan tahun tanpa menyadarinya.

Sebagai perbandingan, seorang perempuan berusia 74 tahun di India pernah dilaporkan membawa “bayi batu” selama lebih dari tiga dekade. Pada kasus di Somaliland, kondisi tersebut terdeteksi setelah sekitar tiga tahun.

Kasus ini juga menyoroti tantangan pelayanan kesehatan ibu di wilayah dengan sumber daya terbatas, termasuk Somaliland. Keterbatasan akses terhadap pemeriksaan kehamilan rutin dan USG pada tahap awal dapat membuat kehamilan ektopik tidak terdeteksi hingga muncul komplikasi atau keluhan berkepanjangan.

Meski demikian, penggunaan CT scan tiga dimensi membantu dokter mengenali struktur massa secara lebih jelas, sementara operasi dan pemantauan lanjutan menghasilkan pemulihan yang baik pada pasien ini. (*)

Sumber: Live Science