Paris, Jurnas.com - Utusan Khusus Prancis untuk Pasokan Mineral dan Logam Strategis, Benjamin Gallezot, menyatakan bahwa negara-negara Barat berpeluang mengurangi ketergantungan pasokan tanah jarang (rare earth) dari China, dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun.
Misi diversifikasi pasokan logam krusial tersebut diprioritaskan guna mengamankan sektor pertahanan, teknologi tinggi, serta industri energi terbarukan dari monopoli global.
Dominasi industri China saat ini terbilang sangat kuat lantaran menguasai hingga 90 persen dari total produksi magnet permanen berbasis tanah jarang di seluruh dunia. Ketergantungan masif negara-negara industri terhadap pasokan tunggal tersebut terbukti berisiko tinggi saat Beijing memberlakukan pembatasan ekspor yang mengganggu sektor otomotif global.
Meskipun banyak investor meragukan kemampuan negara Barat menembus monopoli China akibat tingginya biaya investasi dan rumitnya teknologi pengolahan, Gallezot optimistis pasar ini dapat dijangkau.
Gallezot menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan tanah jarang tidak memerlukan pembukaan ratusan tambang baru karena volume kebutuhan pasokan dunia terbilang terbatas. Apalagi ada perkembangan positif dari berbagai proyek pengolahan logam strategis yang telah menunjukkan kemajuan nyata.
"Anda tidak memerlukan ratusan tambang tanah langka di seluruh dunia untuk memenuhi pasokan. Ini adalah pasar yang terbatas, jumlahnya terbatas. Kami telah membuat beberapa kemajuan," kata Gallezot dikutip dari Reuters pada Rabu (28/10).
Sejumlah negara seperti Belgia, Prancis, Australia, Amerika Serikat, Jepang, Brasil, hingga India dilaporkan tengah mempercepat pembangunan fasilitas ekstraksi dan pemurnian tanah jarang. Gallezot meyakini bahwa jika seluruh proyek internasional tersebut didorong secara maksimal, target diversifikasi dapat dicapai dalam waktu singkat.
"Jika Anda menggabungkan semua proyek ini dan mendorong untuk mempercepatnya, mudah-mudahan Anda dapat memiliki diversifikasi yang baik dalam tiga hingga lima tahun ke depan," dia menambahkan.
Kendati pembangunan fasilitas tambang dan pemurnian berjalan pesat, Gallezot mengingatkan bahwa kapasitas produksi manufaktur magnet permanen masih menjadi faktor pembatas utama. Namun, dia menekankan bahwa tantangan teknis dalam manufaktur magnet tersebut tetap dapat diselesaikan tanpa harus menunggu hingga satu dekade.
Komitmen diversifikasi ini sejalan dengan kesepakatan para pemimpin negara kelompok G-7 untuk memangkas tingkat ketergantungan impor tanah langka dari luar blok hingga di bawah 60 persen pada 2030.
Negara-negara industri utama dunia tersebut bahkan menetapkan target jangka panjang untuk menekan ketergantungan pasokan hingga menyentuh angka 50 persen secepat mungkin.






