https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kasus Ibu Bunuh Bayi, Perempuan Usai Melahirkan Rentan Depresi?

Eka Wahyu Pramita | Jum'at, 06/09/2019 10:45 WIB



Depresi tidak hanya terjadi pra-kelahiran bahkan setelah melahirkan pun perempuan rentan mengalami depresi. Depresi yang dialami perempuan paska-melahirkan masih serupa gunung es (Foto: Ilustrasi)

Jakarta, Jurnas.com - Ramai kasus seorang ibu membunuh bayinya di Bandung menjadi sorotan publik. Bayi yang dibunuh FM adalah anak pertamanya berusia tiga bulan.

Saat ini polisi belum mengetahui apa motif dari pembunuhan tersebut. Namun dugaan awal, ibu berusia 28 tahun ini mengalami Baby Blues Syndrom.

Baby Blues Syndrom memang kerap dialami oleh para ibu yang baru melahirkan seorang anak.

Baca juga :
Kemenkes Deteksi Hampir 10 Persen Anak Indonesia Alami Cemas dan Depresi

Menyoal masalah Baby Blues Syndrom dan Post Partum Depression, Psikolog Tara de Touras mengungkapkan kebahagiaan yang menjadi salah satu sumber kesehatan ibu dan si kecil juga perlu didukung oleh peran Ayah sebagai mitra ibu, termasuk kesehatan secara psikologis.

"Bantuan dapat disampaikan dalam bentuk apa pun, mulai dari perhatian sederhana, teman bercerita, atau mengurangi beban ibu dalam mengerjakan tugas rumah tangga," ucapnya.

Baca juga :
Pemerintah Terbitkan SKB untuk Atasi Krisis Kesehatan Jiwa Anak

Karena sejak saat hamil, ibu akan memperbaiki perubahan yang sesuai dengan perkembangan kehamilannya. Perubahan ini perlu diatasi bersama agar ibu dapat mengatasi masa depan dengan sehat dan bahagia.

Depresi tidak hanya terjadi pra-kelahiran bahkan setelah melahirkan pun rentan mengalami depresi. Hal ini kata terdapat beberapa sebab, pertama terjadinya perubahan hormon,

Baca juga :
Tak Perlu Terapi, Olahraga Mampu Redakan Gejala Depresi

"Kalau kita sedih, hormon lebih ringkih. Sedih naik jadi 80 persen,". Kedua, oleh mindset orang-orang seperti apa. Sikap pesimis setelah membuat jauh lebih besar dari orang biasa. Nah, jika suami dan mendukung sangat bisa saja ibu tidak menjadi depresi. Alasan ketiga adalah karakter, jika seseorang ibu memiliki karakter negatif berpikir dan pesimis ditambah dengan hormon kehamilan maka sangat besar potensinya memgalami depresi.

Tingkatan depresi juga berbeda-beda seperti Baby blues, ini adalah masalah ringan karena hanya terjadi selama dua minggu. Jika sampai 4 minggu atau lebih dari sebelumnya masuk ke Post Power Syndrom.

Selain itu, ada satu tingkat lagi yaitu psikotik halusinasi. Pada tingkat depresi ibu ini bisa melukai bayinya bahkan melukai diri sendiri. Hal ini timbul karena pascamelahirkan ibu yang nyaman, kurang istirahat, merawat, tubuh juga melar jadi ibu melihat sendiri buruk. Masalah psikotik yang membuat minum obat, tubuh lelah dan merasa fisik jelek.

"Orang depresi hormonnya rendah, hubungan seksual sulit didapat dari tempat tidur tidak bersemangat. Nah orang depresi ini butuh bantuan orang," kata Tara.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kesehatan Jiwa Depresi Baby Blues

Terpopuler

Selasa, 07/07/2026 06:06 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Inggris vs Norwegia

Senin, 06/07/2026 17:15 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Swiss vs Kolombia

Minggu, 05/07/2026 20:30 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Portugal vs Spanyol

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777