https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Mengenal Beauty Bullying yang Sering Dialami Perempuan

Eka Wahyu Pramita | Selasa, 30/07/2019 09:30 WIB



Permasalahan social beauty bullying kerap menghantui para perempuan terutama bagi yang aktif di ruang media sosial. Nuran Abdat, M.Psi, Psikolog Klinis (Foto: Ecka Pramita)

Jakarta, Jurnas.com - Beauty bullying merupakan bentuk bullying yang kerap dialami perempuan Indonesia baik secara verbal maupun melalui media sosial.

Permasalahan ini kerap menghantui para perempuan terutama di ruang media sosial yang biasa kita sebut dengan social beauty bullying.

Berdasarkan data dari The Cybersmile Foundation, social beauty bullying telah menjadi permasalahan mainstream yang dialami lebih dari 45 juta perempuan di dunia.

Baca juga :
20 Ucapan Hari Buku Nasional yang Penuh Makna dan Inspiratif

Ironisnya, tindakan tersebut kerap kali datang dari sesama perempuan, baik dari keluarga, kerabat, rekan sekantor ataupun teman yang dapat mempengaruhi sisi psikologis dari perempuan tersebut.

Hal ini turut diyakini oleh Nuran Abdat, M.Psi, yang mengatakan perilaku social beauty bullying yang dilakukan oleh perempuan terhadap
perempuan lain secara online yang mengomentari penampilan seperti makeup, model rambutnya, fitur fisik, dan lain-lain.

Baca juga :
10 Ucapan Peringatan Kenaikan Yesus Kristus 2026 yang Penuh Makna

"Social beauty bullying menjadi tindakan agresif yang dilakukan oleh individu lalu membuat komen yg respon dirasakan secara intimidatif. Ada yang sifatnya pakai fisik, verbal, relational bullying, dan cyber bullying. Ada dua ranah, perilaku agresif yg dia memberikan komentar bentuknya tidak langsung tapi lewat social media (Instagram/twitter),"
ucap Psikolog Klinis dari Brawijaya Healthcare ini di Jakarta, Senin (29/7)

Mirisnya, lanjut Nuran, tindakan itu mostly dilakukan dari perempuan untuk perempuan, harusnya kan supporting each other tapi yang terjadi kok sebaliknya. Ketika ditelisik nasuk ke ranah patriarki, kita tidak terbiasa dididik soal kompetensi dan value diri. Dan akhirnya dipahami sebagai persaingan negatif, menjadi upaya unjuk gigi sebagai persaingan.

Baca juga :
Ini Sejarah dan Makna Pesta Babi bagi Masyarakat Papua

"Sebab dari dulu kan kita sudah terbiasa memendam banyak hal yang dirasakan, lalu tak ada media untuk menyampaikan. Sementara sekarang kan sudah ada wadahnya, lebih leluasa untuk menunjukkan eksistensi atau agresivitas," imbuhnya.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Beauty Bullying Media Sosial

Terkini | Selasa, 19/05/2026 07:30 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777