https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Asal Usul Pacu Jalur, Warisan Budaya Riau yang Mendunia

Vaza Diva | Jum'at, 18/07/2025 13:30 WIB



Ini sejarah pacu jalur yang sedang tren sampai mendunia Pacu Jalur Kuantan Singingi, Riau (Foto: Media Center Riau)

Jakarta, Jurnas.com - Pacu Jalur, perlombaan perahu panjang khas Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, kini ramai diperbincangkan di media sosial. Tak lagi sekadar tradisi lokal tahunan, ajang ini telah menjelma menjadi festival budaya yang menarik perhatian hingga ke tingkat internasional.

Fenomena ini semakin melejit berkat para selebriti dan konten kreator yang mempopulerkan tren “aura farming”, joget khas anak-anak di ujung perahu sehingga budaya Pacu Jalur makin dikenal luas, bahkan menembus mancanegara.

Namun, dari mana sebenarnya asal-usul tradisi ini? Berikut ulasannya.

Baca juga :
Hari Buku Nasional 17 Mei, Ini Sejarah dan Alasan Diperingati Setiap Tahun

Mengutip berbagai sumber, tradisi Pacu Jalur diyakini sudah ada sejak abad ke-17. Awalnya, “jalur” adalah perahu utuh dari batang kayu besar yang berfungsi sebagai sarana transportasi utama di Sungai Kuantan, khususnya untuk mengangkut hasil kebun dan penumpang, mengingat akses darat saat itu masih terbatas.

Setiap perahu dapat memuat puluhan pendayung. Pada masa kolonial Belanda, perlombaan ini mulai dikaitkan dengan perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh di akhir Agustus, berlangsung selama beberapa hari. Pasca-kemerdekaan, Pacu Jalur terus dilestarikan, kini dihubungkan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI setiap bulan Agustus.

Baca juga :
Berbagai Cara Merayakan Peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei

Pembuatan jalur bukan sekadar soal teknis. Prosesnya dimulai dari musyawarah desa dan ritual adat. Para tetua adat memilih pohon yang dianggap memiliki “mambang” atau roh penunggu, sesuai kepercayaan Minangkabau.

Setelah pemilihan kayu, proses berikutnya meliputi rangkaian penghormatan, pemotongan, pembentukan, pengeringan, hingga pemahatan ornamen tradisional seperti motif buaya, ular, atau bunga, yang penuh makna simbolis.

Baca juga :
Ini Sejarah Lahirnya KPK sebagai Garda Terdepan Antirasuah

Dalam jalur, terdapat peran penting seperti tukang concang (pemberi aba-aba), tukang pinggang (pengendali arah), tukang onjai (penjaga ritme), serta tukang tari yang beraksi penuh semangat di ujung perahu untuk memompa semangat tim.

Kini, Pacu Jalur rutin digelar setiap tahun di Sungai Batang Kuantan, terutama di kawasan Teluk Kuantan. Ratusan perahu ambil bagian, disaksikan oleh lautan manusia yang mencapai jutaan pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri.

Acara ini bukan hanya lomba mendayung, tapi juga ajang seni, budaya, olahraga, sekaligus daya tarik pariwisata yang membawa dampak ekonomi bagi daerah.

Lebih dari sekadar lomba, Pacu Jalur sarat dengan makna, yaitu kerja sama, kekompakan, dan ketahanan fisik serta mental. Ayunan dayung yang serempak mencerminkan semangat gotong royong.

Sementara itu, tukang tari yang beraksi di ujung perahu melambangkan keberanian dan semangat juang, menjadi simbol moral dan penyemangat bagi seluruh tim.

Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga cerminan kuatnya hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas, yang tetap hidup dan berkembang hingga hari ini.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Pacu Jalur sejarah Riau viral

Terpopuler

Rabu, 01/07/2026 04:04 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Portugal vs Kroasia

Selasa, 30/06/2026 02:02 WIB
Gaya Hidup

Ini Alasan Mengapa TIM Jadi Oase Kreatif yang Wajib Dikunjungi

Kamis, 02/07/2026 07:30 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Swiss vs Aljazair

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777