Ilustrasi balita ketagihan screen time di gawai (Foto: Swoop)
Jakarta, Jurnas.com - Paparan layar dari ponsel, tablet, televisi, hingga laptop kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, sebuah studi terbaru mengingatkan bahwa bayi sebaiknya tidak mendapatkan screen time secara rutin selama 1.001 hari pertama kehidupan, karena berpotensi memengaruhi tumbuh kembang mereka.
Kesimpulan tersebut berasal dari tinjauan sistematis terbesar yang pernah dilakukan mengenai penggunaan layar pada bayi. Penelitian ini menganalisis berbagai studi dari sejumlah negara serta melibatkan survei dan diskusi kelompok dengan 174 orang tua di Inggris.
Dikutip dari Earth, para peneliti menemukan bahwa hingga saat ini belum ada bukti kuat yang menunjukkan penggunaan layar memberikan manfaat perkembangan bagi anak berusia di bawah dua tahun.
Sebaliknya, screen time yang dilakukan secara sengaja dan rutin dikaitkan dengan sejumlah risiko terhadap kesehatan dan perkembangan anak.
Mengapa 1.001 hari pertama sangat penting? Periode 1.001 hari pertama kehidupan, yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, dikenal sebagai fase paling krusial dalam perkembangan manusia.
Pada masa ini, otak berkembang sangat pesat. Bayi membangun kemampuan berbahasa, bergerak, mengendalikan emosi, bersosialisasi, hingga belajar melalui interaksi langsung dengan orang tua dan lingkungan sekitarnya.
Menurut penelitian, penggunaan layar pada periode tersebut berpotensi mengurangi kesempatan bayi untuk berinteraksi langsung dengan pengasuh, bermain dengan anak lain, dan mengembangkan kemampuan bahasa.
Apa saja risiko screen time pada bayi? Berdasarkan hasil kajian, penggunaan layar secara rutin selama 1.001 hari pertama kehidupan dikaitkan dengan sejumlah potensi risiko di anataranya ialah berkurangnya interaksi antara bayi dan orang tua, dan keterlambatan perkembangan bahasa.
Risiko lainnya ialah stimulasi berlebihan (overstimulasi), gangguan tidur, masalah kesehatan mata, meningkatnya risiko obesitas pada anak, serta ketergantungan terhadap perangkat digital untuk mengatur emosi.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, melainkan menunjukkan adanya keterkaitan yang perlu menjadi perhatian.
Tim peneliti juga menemukan banyak orang tua belum memperoleh informasi yang memadai dari tenaga kesehatan mengenai penggunaan gadget pada bayi.
Penulis studi, Rafe Clayton dari University of Leeds, mengatakan penggunaan layar pada anak di bawah dua tahun telah menjadi persoalan global yang belum ditangani secara optimal.
Ia menilai pedoman penggunaan layar untuk anak memang sudah tersedia di sejumlah negara, tetapi penerapannya masih rendah karena orang dewasa sendiri belum memiliki panduan yang jelas mengenai kebiasaan menggunakan perangkat digital.
Penelitian menunjukkan kebiasaan orang tua menggunakan gadget sangat memengaruhi paparan layar pada bayi.
Karena itu, peneliti menilai tanggung jawab tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada keluarga. Pemerintah, tenaga kesehatan, pendidik, hingga perusahaan teknologi perlu ikut berperan memberikan edukasi dan informasi yang lebih jelas mengenai penggunaan perangkat digital pada anak usia dini.
Para peneliti juga meminta perusahaan teknologi tidak lagi memberi label bahwa konten digital cocok untuk bayi tanpa didukung bukti ilmiah yang memadai.
Bagaimana scara mengurangi screen time pada bayi? Meski masih diperlukan penelitian lanjutan, studi ini mengidentifikasi beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi paparan layar pada bayi, di antaranya ialah mengajak anak lebih sering bermain di luar ruangan.
Cara lainnya ialah menjauhkan gadget saat waktu makan, menyediakan mainan non-digital yang mendorong eksplorasi dan kreativitas. Selain itu dapat juga dilakukan dengan memperbanyak interaksi langsung melalui bermain, berbicara, membaca buku, dan aktivitas bersama keluarga.
Menurut peneliti, berbagai aktivitas tersebut telah lama terbukti lebih efektif dalam mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak dibandingkan paparan layar sejak usia dini.
Mereka juga menekankan bahwa temuan ini bukan bertujuan menyalahkan orang tua, melainkan menjadi pengingat bahwa keluarga membutuhkan dukungan dan panduan yang lebih baik untuk menghadapi tantangan penggunaan teknologi di era digital. (*)
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal White Rose.
Sumber: Earth
Jum'at, 03/07/2026 09:17 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB