Selat Hormuz yang kini diblokade oleh Iran selama perang melawan AS dan Israel (Foto: AFP)
JAKARTA - Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim ranjau laut miliknya berhasil menghentikan tiga kapal tanker minyak yang berupaya melintasi Selat Hormuz melalui rute yang dianggap ilegal oleh pihak Tehran.
Dalam pernyataan resmi di situs web Sepah News, IRGC menyatakan bahwa dua kapal tanker minyak yang melanggar aturan terbakar dan terhenti akibat ledakan ranjau yang dipasang oleh pelaut Angkatan Laut IRGC di titik perlintasan ilegal di bagian selatan Selat Hormuz.
Tak lama berselang, stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa kapal tanker ketiga meledak dan terbakar setelah menabrak ranjau laut di selatan Selat Hormuz.
Salah satu kapal tanker yang mengangkut lebih dari 2 juta barel minyak mentah tersebut dilaporkan telah mematikan seluruh sistem radar dan navigasinya.
Pihak Garda Revolusi menyatakan bahwa beberapa kapal tanker telah dihantam ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Sejak pecahnya perang di Timur Tengah, pasukan Iran berulang kali menyasar kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui rute selatan dekat pesisir Oman.
Konflik ini bermula pada 28 Februari lalu ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut beserta para komandan militer senior.
Sebagai respons, Iran berupaya memblokade Selat Hormuz—jalur maritim strategis yang dalam kondisi damai mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia—dengan mewajibkan seluruh kapal meminta izin sebelum melintas.
Amerika Serikat kemudian membalas dengan menerapkan blokade tandingan terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran.
Insiden penyerangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz terus meningkat seiring upaya Washington mengawal lebih banyak kapal, sementara Tehran berusaha mempertahankan kendali atas jalur tersebut.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi, menegaskan bahwa pasukannya memanfaatkan alutsista berbiaya murah untuk menghadapi peralatan militer canggih milik AS.
"Jika musuh melakukan kesalahan lebih lanjut, kami akan menetralkan dampak dari peralatan canggih dan mahal mereka menggunakan berbagai peralatan berbiaya murah namun efektif," tegas Ali Abdollahi.
Rabu, 21/10/2026 17:15 WIB
Selasa, 20/10/2026 08:35 WIB
Sabtu, 17/10/2026 08:35 WIB
Jum'at, 16/10/2026 20:42 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB