Selat Hormuz (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Iran kembali melontarkan ancaman di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan akan mengungkap target dan senjata baru, sembari menyoroti tujuh kabel internet utama yang melintasi dasar Selat Hormuz.
Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah upacara di Museum Pertahanan Suci di Teheran, Senin. Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan pernyataan itu ketika ketegangan di kawasan masih berlanjut.
“Ada tujuh kabel internet utama yang membentang di bawah Selat Hormuz,” kata Mohebbi. Ia mengklaim seluruh lalu lintas data internet dan komersial melewati kabel-kabel tersebut.
“Kami hanya ingin mereka tahu bahwa target baru akan diungkap. Senjata baru akan diperkenalkan,” ujarnya.
Mohebbi juga menegaskan tekad Iran untuk mengusir sisa-sisa kekuatan Amerika Serikat dari kawasan tersebut. Namun, dalam pernyataannya, ia tidak merinci target baru yang dimaksud maupun jenis senjata yang akan diperkenalkan.
Pernyataan Mohebbi menambah perhatian terhadap infrastruktur digital bawah laut di tengah konflik Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, awal bulan ini, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyebut kabel internet bawah laut, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan yang terkait dengan Amerika Serikat sebagai aset yang berpotensi menjadi sasaran jika perang kembali pecah.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Iran, Press TV, Rezaei mengatakan infrastruktur tersebut belum dimasukkan ke dalam daftar target Iran.
“Kami belum memasukkan aset-aset ini ke dalam daftar target kami,” kata Rezaei. Ia memperingatkan bahwa infrastruktur tersebut dapat dihancurkan apabila konflik kembali terjadi.
Pernyataan itu memperluas sorotan terhadap potensi sasaran dalam konflik, dari aset militer hingga infrastruktur yang mendukung komunikasi dan pemrosesan data. Meski demikian, ancaman yang disampaikan pejabat Iran tersebut belum berarti serangan terhadap kabel internet atau fasilitas digital itu telah dilakukan.
Ketegangan terbaru berlangsung setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke berbagai wilayah di kawasan tersebut.
Iran kemudian secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi perhatian internasional. Amerika Serikat selanjutnya memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pada Juni, Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Namun, pelaksanaannya terhambat oleh perbedaan pandangan terkait keamanan di jalur perairan strategis tersebut. (*)
Sumber: Anadolu
Selasa, 20/10/2026 13:34 WIB
Selasa, 20/10/2026 13:15 WIB
Selasa, 20/10/2026 12:50 WIB
Selasa, 20/10/2026 08:35 WIB
Sabtu, 17/10/2026 08:35 WIB
Jum'at, 16/10/2026 20:42 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB
Selasa, 20/10/2026 11:32 WIB