Merokok telah dikaitkan dengan masalah reproduksi pada pria maupun wanita, tetapi mekanisme biologis yang mendasarinya belum sepenuhnya dipahami (Foto: Shutterstock via Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Paparan asap rokok berpotensi memengaruhi organ reproduksi pria dan wanita melalui perubahan biologis yang berbeda. Penelitian pada tikus menemukan indikasi perubahan aktivitas gen di ovarium, sementara pada testis terlihat perbedaan struktur saluran kecil tempat sperma berkembang.
Studi yang melibatkan peneliti dari University of Nottingham dan University of Sheffield, Inggris, ini memberikan petunjuk awal tentang bagaimana asap rokok dapat memengaruhi kesehatan reproduksi. Namun, para peneliti belum memastikan apakah perubahan yang ditemukan benar-benar mengganggu kesuburan atau kemampuan menghasilkan keturunan.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Yasmin Azizbayli dan Profesor Lucy Fairclough dari University of Nottingham, bersama Dr. Adam Watkins dari University of Sheffield. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Toxicology.
“Sudah diketahui secara luas bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan reproduksi, tetapi mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami,” kata Watkins dikutip Earth, Sabtu (17/10).
Untuk mengamati dampak paparan asap rokok, tim peneliti mengumpulkan asap rokok dalam bentuk cairan di laboratorium, kemudian memberikannya kepada tikus melalui tetesan ke hidung.
Hewan percobaan dibagi menjadi tiga kelompok, yakni kelompok dengan paparan dosis rendah, dosis tinggi, dan kelompok kontrol yang menerima cairan tanpa ekstrak asap rokok. Pemberian dilakukan tiga kali seminggu selama 12 minggu.
Kedua dosis tersebut dirancang untuk memberikan gambaran kasar tentang paparan yang berkaitan dengan kebiasaan merokok ringan dan berat pada manusia. Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa tubuh tikus memproses bahan kimia secara berbeda dari manusia. Pemberian ekstrak melalui tetesan hidung juga tidak sepenuhnya menggambarkan proses seseorang menghirup asap saat merokok.
Setelah periode paparan berakhir, peneliti memeriksa ovarium dan testis untuk melihat kemungkinan perubahan struktur jaringan serta aktivitas gen.
Di dalam ovarium, sel telur yang berkembang berada dalam struktur bernama folikel. Peneliti menghitung jumlah folikel dan memeriksa tahap perkembangannya untuk mengetahui apakah paparan asap rokok berkaitan dengan perubahan pada struktur tersebut.
Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan perbedaan jumlah folikel yang jelas antara kelompok tikus yang terpapar asap rokok dan kelompok kontrol. Secara kasatmata, struktur ovarium juga tidak memperlihatkan perubahan mencolok berdasarkan pengamatan yang dilakukan.
Namun, pemeriksaan aktivitas gen menunjukkan sejumlah pola yang perlu diteliti lebih lanjut, terutama pada tikus yang menerima dosis tinggi.
Beberapa gen yang terlibat dalam pembelahan sel dan perbaikan DNA tampak memiliki aktivitas lebih rendah. Sebaliknya, aktivitas sejumlah gen yang berhubungan dengan pembentukan perangkat sel untuk memproduksi protein terlihat meningkat.
Peneliti mengajukan kemungkinan bahwa sebagian sel meningkatkan produksi protein tanpa diikuti peningkatan pembelahan sel. Akan tetapi, mekanisme tersebut belum dikonfirmasi secara langsung.
Temuan ini juga perlu ditafsirkan secara hati-hati. Perbedaan aktivitas gen yang ditemukan tidak lolos pengujian statistik yang lebih ketat, sehingga belum dapat dianggap sebagai perubahan biologis yang telah terbukti.
Selain itu, pemeriksaan jumlah dan penampilan folikel tidak menjawab apakah kualitas sel telur ikut berubah. Peneliti juga belum menguji apakah paparan tersebut memengaruhi kemampuan tikus untuk bereproduksi.
Perubahan yang terindikasi pada ovarium menarik perhatian peneliti karena sejumlah penelitian sebelumnya mengaitkan kebiasaan merokok pada wanita dengan menopause yang terjadi lebih awal.
Penelitian terdahulu juga menghubungkan peningkatan aktivitas gen tertentu yang berkaitan dengan pembentukan protein dengan insufisiensi ovarium prematur, yaitu kondisi ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun.
Hasil penelitian pada tikus ini dapat menjadi pijakan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan tersebut. Namun, studi ini tidak membuktikan bahwa paparan asap rokok menyebabkan tikus kehilangan cadangan sel telur lebih cepat atau mengalami menopause dini.
Hubungan antara pola aktivitas gen yang teramati pada tikus dan kondisi reproduksi manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Berbeda dari ovarium, testis tikus yang terpapar asap rokok menunjukkan perbedaan yang dapat diamati melalui mikroskop.
Sperma berkembang di dalam saluran-saluran kecil pada testis yang dilapisi sel pendukung. Pada kelompok yang menerima dosis asap rokok lebih tinggi, peneliti menemukan lebih banyak saluran dengan lapisan sel yang tidak biasa tipis serta lebih banyak saluran dengan ruang tengah yang melebar dibandingkan kelompok tanpa paparan.
Meski demikian, pengukuran rata-rata struktur tersebut di antara kelompok tidak menunjukkan perbedaan yang jelas. Karena itu, temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh struktur testis mengalami perubahan akibat paparan asap rokok.
Peneliti juga menemukan indikasi perubahan aktivitas gen yang berhubungan dengan pembentukan sperma dan pengaturan sinyal kekebalan tubuh.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kemungkinan keterlibatan sel Sertoli. Sel ini berperan mendukung perkembangan sperma sekaligus membantu melindunginya dari serangan sistem kekebalan tubuh.
Peneliti menduga fungsi sel pendukung tersebut mungkin terpengaruh, tetapi dugaan itu masih perlu diuji. Mereka tidak menghitung jumlah sperma ataupun memeriksa kualitasnya sehingga belum dapat memastikan apakah perubahan jaringan tersebut berdampak pada kesuburan tikus jantan.
Peneliti menekankan bahwa studi ini masih memiliki keterbatasan, termasuk jumlah sampel yang kecil dan ketidakpastian dalam hasil analisis aktivitas gen.
Ketika ribuan gen diperiksa sekaligus, sebagian perbedaan dapat muncul secara kebetulan. Pengujian statistik yang lebih ketat diperlukan untuk mengurangi risiko tersebut. Dalam penelitian ini, temuan aktivitas gen yang dibahas sebagai pola potensial belum memenuhi kriteria statistik yang lebih ketat.
Profesor Lucy Fairclough mengatakan hasil penelitian tersebut penting untuk membantu memahami bagaimana paparan asap rokok berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi.
“Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan bagaimana perubahan biologis ini berkaitan dengan kesuburan pada manusia,” ujarnya.
Tahap berikutnya adalah menguji apakah perubahan yang teramati benar-benar memengaruhi sel telur, sperma, kemampuan menghasilkan keturunan yang sehat, serta apakah pola serupa terjadi pada manusia.
Dengan demikian, penelitian ini belum membuktikan bahwa asap rokok menyebabkan gangguan kesuburan melalui mekanisme yang ditemukan pada tikus. Namun, hasilnya memberikan petunjuk awal bahwa organ reproduksi pria dan wanita mungkin merespons paparan asap rokok secara berbeda, sehingga perlu dikaji lebih mendalam. (*)
Sumber: Earth
Sabtu, 17/10/2026 12:05 WIB
Sabtu, 17/10/2026 08:35 WIB
Jum'at, 16/10/2026 20:42 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB