https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Bukan Sekadar Hiburan, Aktivitas di Alam Bisa Membantu Kurangi Kesepian

Agus Mughni | Jum'at, 16/10/2026 22:44 WIB



Kesepian kronis dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, demensia, stroke, depresi, dan kecemasan ilustrasi - Beraktivitas di alam (Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Jakarta, Jurnas.com - Menghabiskan waktu di alam terbuka melalui kegiatan seperti berkebun, mengamati burung, dan mengenali tanaman ternyata berpotensi membantu mengurangi rasa kesepian.

Manfaatnya bahkan dapat bertahan hingga berbulan-bulan setelah program kegiatan berakhir, menurut penelitian yang dipimpin peneliti University of Colorado Boulder (CU Boulder).

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Regional Health – Europe ini memberikan bukti tambahan bahwa aktivitas berbasis alam dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengatasi kesepian.

Baca juga :
Penggunaan Media Sosial Berlebih Bisa Perparah Kesepian, Studi Ungkap Alasannya

Temuan tersebut berasal dari uji coba terkontrol yang melibatkan 320 orang dewasa yang mengalami kesepian di 12 kawasan berpenghasilan rendah di wilayah metropolitan Barcelona, Spanyol.

“Sudah banyak antusiasme terhadap resep berbasis alam, tetapi belum banyak bukti,” kata Jill Litt dari CU Boulder, penulis korespondensi penelitian tersebut.

“Kini kami memiliki uji coba terkontrol secara acak yang menunjukkan bahwa pendekatan ini berhasil dan dampaknya bertahan,” ujar Jill lagi.

Kesepian bukan sekadar tidak memiliki teman. Kesepian tidak selalu berarti seseorang hidup sendiri atau tidak berada di tengah orang lain. Kondisi ini merupakan kesenjangan subjektif antara hubungan sosial yang diharapkan seseorang dan hubungan yang benar-benar dirasakannya.

Karena itu, seseorang tetap bisa merasa kesepian meskipun berada di ruangan yang dipenuhi orang. Perasaan tersebut juga tidak selalu mudah diungkapkan, sehingga sebagian orang mungkin kesulitan menyadari atau mengakui apa yang sedang dialaminya.

Litt menggambarkan kesepian sebagai perasaan tidak nyaman yang seolah mengganjal di dalam diri. Menurutnya, seseorang bisa berada di tengah keramaian tetapi tetap merasa kesepian.

Dampaknya terhadap kesehatan juga menjadi perhatian. Kesepian kronis dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, demensia, stroke, depresi, dan kecemasan. Kondisi ini juga dapat meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan, termasuk kunjungan ke dokter dan unit gawat darurat.

Penelitian ini merupakan bagian dari proyek RECETAS (Re-imagining Environments for Connection and Engagement), yang diluncurkan pada 2021 dengan pendanaan 5,6 juta euro dari Komisi Eropa. Proyek tersebut menjalankan uji coba di enam kota, yakni Barcelona, Praha, Helsinki, Marseille, Cuenca, dan Melbourne.

Dalam penelitian di Barcelona, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Sebagian mengikuti program Friends in Nature dalam kelompok kecil beranggotakan delapan hingga 10 orang, dengan pertemuan selama dua jam setiap pekan selama sembilan minggu.

Kegiatan mereka mencakup berkebun, mengamati burung, mengenali berbagai jenis tanaman, serta membuat karya seni yang terinspirasi alam. Dua fasilitator terlatih mendampingi setiap kelompok selama program berlangsung.

Kelompok lainnya memperoleh daftar kegiatan berbasis alam yang sama, yang gratis dan mudah diakses. Namun, mereka menjalankan kegiatan tersebut secara mandiri tanpa mengikuti sesi kelompok yang dipandu fasilitator.

Hasilnya, kedua pendekatan sama-sama menunjukkan penurunan skor kesepian. Skor tersebut turun 11 persen setelah tiga bulan, 12 persen setelah enam bulan, dan 17 persen setelah satu tahun.

Penurunan yang terus terlihat dalam periode tersebut menjadi temuan penting karena manfaat sejumlah intervensi untuk mengatasi kesepian cenderung memudar setelah program selesai.

Meski kedua pendekatan menunjukkan hasil positif, kegiatan kelompok yang dipandu fasilitator memberikan manfaat tambahan bagi peserta yang sejak awal memiliki kesejahteraan emosional lebih rendah. Kelompok ini mencakup peserta yang mengalami kesepian dan tekanan emosional lebih berat ketika bergabung dalam penelitian.

Pertemuan terstruktur memberi mereka kesempatan untuk berinteraksi secara rutin dengan orang lain. Tingkat peserta yang berhenti mengikuti program juga tercatat lebih rendah pada kelompok yang mendapat pendampingan dibandingkan kelompok yang menjalankan kegiatan secara mandiri.

Peneliti menilai lingkungan alam dapat membantu memperkuat manfaat interaksi sosial. Suara burung, aroma tumbuhan, perubahan cahaya, dan pengalaman indrawi lainnya dapat menciptakan suasana yang mendukung hubungan antarpeserta.

Louise Chawla dari CU Boulder, salah satu penulis penelitian, mengatakan pengalaman berada di alam dapat menjadi sumber ketenangan yang bisa diingat kembali ketika seseorang menghadapi tekanan.

Menurutnya, manfaat alam tidak hanya dirasakan ketika seseorang sedang berada di suatu tempat, tetapi juga dapat muncul melalui ingatan terhadap pengalaman tersebut.

Temuan ini membuka peluang untuk menghubungkan ruang hijau perkotaan dengan upaya kesehatan masyarakat. Di Spanyol, sejumlah lembaga kesehatan masyarakat telah mengakui Friends in Nature sebagai praktik yang baik untuk menangani kesepian.

Tim RECETAS juga sedang berupaya memperluas uji coba serupa ke Amerika Serikat. Dalam jangka panjang, mereka berharap kegiatan seperti keanggotaan kebun komunitas atau klub pengamatan burung dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari intervensi kesehatan yang ditanggung asuransi.

Meski demikian, penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa aktivitas di alam dapat menyembuhkan semua masalah terkait kesepian. Skor kualitas hidup peserta tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan, sementara program selama sembilan minggu belum tentu cukup untuk mengatasi persoalan kesepian kronis yang telah berlangsung lama.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas berbasis alam, baik secara mandiri maupun bersama kelompok, dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengurangi kesepian. Pendekatan ini juga memperlihatkan bagaimana ruang hijau dan kegiatan komunitas berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan emosional masyarakat. (*)

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Manfaat Aktivitas di Alam Rasa Kesepian Aktivitas Berbasis Alam

Terkini | Sabtu, 17/10/2026 00:26 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777