Situasi saat pesawat Flydubai rute Israel dibajak (Foto: AFP)
Tel Aviv, Jurnas.com - Identitas tiga anggota awak pesawat Flydubai yang bertindak cepat mengambil alih kendali dan menstabilkan penerbangan FZ 1073 berpenumpang 182 orang di tengah pembajakan, hingga kini belum diungkapkan secara publik. Maskapai Flydubai sejauh ini hanya menyebut ketiganya sebagai anggota awak bertugas yang sedang menumpang.
Meskipun maskapai belum membeberkan rincian mengenai sosok mereka, seorang penumpang yang duduk di barisan depan kabin, Daniel Schlichter, membeberkan kronologi aksi penyelamatan dramatis tersebut.
Schlichter, yang duduk di baris kedua kabin, mengungkapkan bahwa keberadaan dua pilot tambahan yang sedang menumpang dalam penerbangan dari Dubai menuju Tel Aviv tersebut merupakan sebuah keberuntungan luar biasa.
"Ini adalah salah satu keajaiban. Bahwa tidak di setiap penerbangan mereka membawa dua pilot ekstra. Dalam kasus ini, mereka membawa mereka karena mereka harus membawa pesawat kembali dari Tel Aviv ke Dubai, dan itulah satu-satunya alasan mereka ada di sana," kata Schlichter dikutip dari Associated Press pada Minggu (4/10).
Aksi penyelamatan bermula ketika para penumpang yang panik menyadari situasi mencekam di dalam kokpit. Ko-pilot dilaporkan menyerang sang kapten secara berulang kali hingga darah berceceran di mana-mana. Meski mengalami luka parah, kapten pesawat berhasil membuka kunci pintu kokpit dari dalam.
Seorang penumpang segera memegang dan menarik ko-pilot keluar dari kokpit, sementara penumpang lainnya bergulat untuk melumpuhkannya. Saat pergumulan terjadi, salah satu pilot ekstra yang menumpang langsung bergerak cepat menerobos kerumunan.
"Dia sebenarnya seperti melompati orang-orang yang sedang menangani teroris itu, dan dia menjangkau ke area pilot lalu mulai mengambil alih," tutur Schlichter. "Lalu pria yang satu lagi, pilot yang lain, ikut masuk dan mereka menutup pintu karena mereka tidak ingin ada orang lain di sana".
Schlichter memuji keberanian luar biasa pilot tersebut dalam menghadapi situasi kritis.
"Dia benar-benar bertindak seperti pahlawan, mengambil alih pesawat dan bereaksi seolah dia paham betul apa yang terjadi, dan saya pikir kita berutang nyawa kepadanya tidak kalah dari pahlawan lain di penerbangan itu," kata Schlichter.
Proses penstabilan pesawat membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 10 menit atau lebih, akibat penurunan ketinggian ekstrem yang bahkan menyebabkan sebagian kemudi pesawat robek. Di tengah upaya penyelamatan, panggilan darurat dipancarkan saat pilot pengganti berupaya mencari lokasi pendaratan darurat.
Situasi di dalam kabin juga sempat diliputi kecemasan karena para pilot baru tersebut tidak langsung berkomunikasi dengan para penumpang.
"Setelah mereka berhasil menstabilkan pesawat, sebenarnya mereka tidak melakukan komunikasi apa pun dengan kami, dan harus saya katakan, saya khawatir tentang hal ini," ungkap Schlichter. Dia mengaku sempat mengkhawatirkan kemungkinan terburuk bahwa pesawat disandera ke lokasi lain seperti Iran.
Namun, ketakutan tersebut sirna setelah sekitar 45 menit penerbangan, ketika pilot akhirnya memberikan pengumuman bahwa pesawat akan mendarat di Tabuk, Arab Saudi, dan situasi dipastikan aman. Pesawat tersebut akhirnya mendarat selamat di Bandara Internasional Pangeran Sultan bin Abdulaziz di Tabuk.
Sabtu, 26/09/2026 17:05 WIB
Minggu, 04/10/2026 02:02 WIB