Kelompok Houthi di Yaman (Foto: Arab News)
Washington, Jurnas.com - Amerika Serikat menyampaikan peringatan tegas kepada kelompok Houthi di Yaman melalui saluran keamanan khusus. Dikatakan, Washington memastikan tidak akan melakukan negosiasi apapun dengan kelompok bersenjata Yaman tersebut.
Penegasan dari AS ini mengemuka setelah pergerakan militer Houthi yang berhasil menguasai wilayah pesisir barat Yaman yang berhadapan langsung dengan Selat Bab Al-Mandab, terusan maritim strategis yang melayani sekitar 12 persen jalur perdagangan global.
Houthi sempat berupaya mengirimkan pesan penenang yang menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal Amerika Serikat. Langkah ini dinilai sebagai upaya konsolidasi posisi pasca-kemajuan militer mereka di lapangan.
"Amerika Serikat mendukung pemerintah sah Yaman dalam menghadapi milisi Houthi yang didukung Iran. Kami menyerukan kepada Houthi untuk menghentikan kemajuan pasukan mereka, menarik diri dari wilayah yang disita, serta menghentikan seluruh serangan," bunyi pernyataan resmi delegasi AS dalam sidang Dewan Keamanan PBB, dikutip dari Arab News pada Rabu (16/9).
Penggunaan saluran keamanan oleh pemerintah AS dinilai sejumlah pengamat bukan merupakan indikasi adanya kesepakatan diplomatik, maupun penerimaan atas jaminan keamanan dari Houthi.
Pengamat dari Royal United Services Institute (RUSI), Al-Baraa Shaiban, menjelaskan bahwa komunikasi terbatas lewat saluran keamanan merupakan hal lumrah yang dilakukan pemerintah Barat dengan kelompok milisi dalam situasi darurat, tanpa melibatkan kerangka politik formal.
Sementara itu, mantan diplomat Yaman Mahmoud Shuhra menilai tindakan Houthi sebagai adopsi taktik Iran dan Garda Revolusi. Houthi meluncurkan konfrontasi militer cepat untuk merebut wilayah strategis, lalu menawarkan jaminan damai sementara guna menghindari balasan militer berskala penuh dari koalisi internasional.
Di jalur darat, pasukan pemerintah Yaman terus meningkatkan kesiapsiagaan militer untuk merebut kembali inisiatif pertempuran di garis depan Taiz dan pesisir barat. Pertempuran sengit antara kedua belah pihak kian memanas sejak Agustus 2026, di mana Houthi dituding sengaja memicu eskalasi guna mengalihkan tekanan militer terhadap Iran.
Minggu, 13/09/2026 11:35 WIB