https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Asap Karhutla Bisa Mengubah Keanekaragaman Komunitas Burung

Agus Mughni | Rabu, 16/09/2026 13:05 WIB



Pola paling jelas terlihat ketika peneliti membandingkan keanekaragaman burung dengan paparan asap kebakaran pada tahun sebelumnya Upaya pemadaman Karhutla (Foto: ANTARA/Ali Nur Ichsan)

Jakarta, Jurnas.com - Dampak kebakaran hutan dan lahan tidak selalu berhenti di kawasan yang dilalap api. Analisis besar di Amerika Serikat menunjukkan paparan asap kebakaran hutan dapat berkaitan dengan menurunnya keanekaragaman burung pada musim berkembang biak berikutnya, termasuk di wilayah yang tidak mengalami kebakaran secara langsung.

Penelitian yang dipimpin Sarah Meier dari ETH Zurich bersama Eric Strobl dari University of Bern dan University of Birmingham tersebut menelusuri dampak partikel udara berukuran sangat kecil atau PM2,5 yang dihasilkan kebakaran hutan. Partikel ini dapat bertahan di udara dan terbawa hingga ratusan mil dari sumber kebakaran.

Para peneliti secara khusus menggunakan perkiraan PM2,5 yang berasal dari kebakaran hutan, bukan mencampurkannya dengan polusi dari kendaraan, pabrik, maupun sumber lainnya. Data paparan asap kemudian dibandingkan dengan hasil survei burung di wilayah Amerika Serikat yang berdekatan antara 2008 dan 2022.

Baca juga :
Mayawana Persada Terjunkan Personel Tuntaskan Penanganan Karhutla

Dataset akhir mencakup 2.883 rute survei dan 23.917 pengamatan terhadap 700 spesies burung asli. Setiap rute memiliki panjang sekitar 25 mil atau 40 kilometer, dengan relawan berhenti di 50 titik tetap untuk mencatat seluruh spesies burung yang dapat dilihat atau didengar.

Dalam setiap rute, rata-rata sekitar 55 spesies burung tercatat. Namun, para peneliti tidak hanya menghitung jumlah spesies, karena ukuran tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebuah komunitas burung.

Baca juga :
Hotspot Karhutla Kalbar Turun Tajam, Kalteng Kini Tertinggi

Mereka juga melihat seberapa merata jumlah individu tersebar di antara berbagai spesies serta mengukur keanekaragaman evolusioner. Ukuran terakhir menunjukkan apakah suatu komunitas dihuni burung dari banyak cabang berbeda dalam pohon evolusi.

Perbedaan tersebut penting karena hilangnya satu spesies yang memiliki hubungan evolusioner unik dapat memberikan dampak yang berbeda dibandingkan hilangnya satu spesies dari kelompok yang memiliki banyak kerabat dekat.

Baca juga :
PT BMJ Serahkan Lima Unit Mesin Pemadam Karhutla di Kalbar

“Saya tidak yakin apakah kami akan melihat efek sama sekali di wilayah yang begitu luas dan beragam secara ekologis,” kata Meier.

Pola paling jelas terlihat ketika peneliti membandingkan keanekaragaman burung dengan paparan asap kebakaran pada tahun sebelumnya. Wilayah yang mengalami paparan asap lebih berat cenderung memiliki komunitas burung yang lebih sedikit beragam pada musim berkembang biak berikutnya.

Peningkatan PM2,5 dari kebakaran hutan dalam jumlah yang cukup besar dikaitkan dengan penurunan jumlah spesies sekitar 3 persen. Pada rute yang rata-rata memiliki 55 spesies, angka tersebut setara dengan berkurangnya sekitar satu hingga dua spesies.

Penurunan itu memang terlihat kecil jika dilihat dari rata-rata seluruh lokasi. Namun, di lokasi dengan tingkat polusi asap paling tinggi, perkiraan penurunan keanekaragaman terlihat jauh lebih besar pada berbagai ukuran yang digunakan dalam penelitian.

“Dampaknya tidak besar, tetapi dapat diukur. Dan kita tidak pernah tahu spesies mana yang akan menghilang dan mana di antaranya yang sangat penting bagi suatu ekosistem,” kata Meier.

Menurutnya, penurunan kecil sekalipun dalam kondisi tertentu dapat membuat keseimbangan ekosistem terganggu.

Salah satu persoalan utama dalam penelitian ini adalah membedakan dampak asap dari kerusakan habitat akibat api. Kebakaran secara langsung dapat menghancurkan hutan dan habitat, sehingga berkurangnya jumlah burung di sekitar lokasi kebakaran belum tentu disebabkan asap.

Untuk menguji kemungkinan tersebut, peneliti secara khusus menganalisis lokasi survei yang tidak mengalami kebakaran dalam radius sekitar 3 mil atau 5 kilometer.

Hasilnya, pola negatif tetap terlihat. Paparan asap yang lebih berat masih berkaitan dengan lebih sedikit spesies burung, komposisi spesies yang kurang merata, serta keanekaragaman evolusioner yang lebih rendah meskipun lanskap di sekitar lokasi tidak terbakar.

Peneliti juga menguji kemungkinan burung hanya berpindah ke rute survei lain yang berdekatan. Analisis kemudian diulang menggunakan rute yang berjarak setidaknya sekitar 19 mil atau 30 kilometer, dan pola umum yang sama tetap ditemukan.

Dalam analisisnya, tim juga memperhitungkan faktor cuaca, kekeringan, penggunaan lahan, pembakaran lokal, kondisi survei, serta perbedaan lain antarlokasi. Pendekatan statistik tersebut digunakan untuk memisahkan pengaruh asap kebakaran dari kondisi lain yang biasanya muncul bersamaan dengan kebakaran.

Pengaruh asap ternyata tidak seragam di seluruh ekosistem. Kawasan Hutan Beriklim Sedang Timur menunjukkan beberapa penurunan paling jelas pada ketiga ukuran keanekaragaman yang dianalisis.

Kawasan Gurun Amerika Utara juga menunjukkan penurunan yang jelas dalam jumlah spesies dan pemerataan komposisi spesies. Sementara itu, kawasan Hutan Utara menunjukkan penurunan pada ukuran pemerataan komunitas burung.

Sebaliknya, wilayah yang sangat luas seperti kawasan Barat atau Timur Laut Amerika Serikat tidak menunjukkan pola sederhana. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya melihat karakter masing-masing ekosistem karena habitat yang berbeda memiliki komposisi spesies dan respons yang berbeda terhadap paparan asap dalam jumlah yang sama.

Mengapa perubahan burung penting bagi ekosistem? Burung tidak hanya menjadi bagian dari keanekaragaman hayati. Mereka membantu menyebarkan biji, menyerbuki tanaman, memangsa serangga, serta menjalankan berbagai fungsi lain yang mendukung keberlangsungan ekosistem.

Perubahan komunitas burung karena itu dapat berpengaruh pada tumbuhan dan hewan lain. Gangguan terhadap pengendalian hama alami maupun fungsi ekologis lainnya juga pada akhirnya dapat berkaitan dengan pertanian dan kehutanan.

Burung juga dikenal sensitif terhadap perubahan lingkungan sehingga komunitasnya dapat menjadi petunjuk mengenai perubahan yang lebih luas dalam suatu ekosistem. Penurunan keanekaragaman burung dengan demikian tidak hanya menunjukkan berkurangnya burung, tetapi dapat menjadi tanda adanya perubahan pada lingkungan secara keseluruhan.

Para peneliti menegaskan analisis tersebut belum dapat menunjukkan secara pasti apa yang terjadi pada setiap burung setelah terpapar asap. Sebagian burung mungkin berpindah lebih jauh, sementara lainnya dapat mengalami gangguan kesehatan atau penurunan keberhasilan berkembang biak.

Penelitian sebelumnya yang dikutip dalam studi tersebut memang telah mengaitkan paparan asap dengan penurunan berat badan, gangguan pernapasan, perubahan perilaku, dan masalah reproduksi pada burung. Namun, penelitian ini sendiri tidak secara langsung mengukur dampak biologis tersebut.

Bukti paling kuat dalam analisis juga berkaitan dengan musim berkembang biak setelah paparan asap. Ketika peneliti melihat beberapa tahun setelah kejadian asap, hasilnya menjadi kurang konsisten. Karena itu, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa setiap tahun dengan paparan asap akan menyebabkan hilangnya keanekaragaman burung secara permanen.

Temuan tersebut memperluas cara melihat dampak kebakaran hutan. Kerusakan tidak hanya dapat dihitung dari luas hutan atau habitat yang terbakar, karena asap dapat bergerak jauh dari sumber api dan berkaitan dengan perubahan komunitas burung pada tahun berikutnya.

“Dalam kasus bangunan yang terbakar, kita relatif mudah menghitung biaya kerusakannya. Dalam hal keanekaragaman hayati, semuanya jauh lebih kompleks,” kata Meier.

Menurut Meier, ada konsekuensi lain dari kebakaran hutan yang selama ini masih sangat sedikit diperhitungkan, meskipun dapat berdampak terhadap masyarakat.

Penelitian mengenai hubungan asap kebakaran hutan dan keanekaragaman burung tersebut telah diterbitkan dalam Journal of Environmental Economics and Management. (*)

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Dampak Karhutla Komunitas Burung Kebakaran Hutan dan Lahan

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777