Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid. (Foto: Humas MPR)
Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menegaskan kiprah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia bukanlah hal baru. Sejak era MPRS hingga Reformasi, alumni Gontor tercatat mengisi posisi penting di lembaga permusyawaratan negara.
Hal itu disampaikan HNW dalam acara Malam Peradaban yang digelar untuk menyambut 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (6/9/2026) malam.
Diungkapkan HNW, sejarah mencatat Ketua MPRS pertama, KH Dr Idham Chalid, merupakan alumni Gontor. Memasuki era Reformasi, posisi Ketua MPR RI juga pernah dijabat alumni Gontor, yakni Hidayat Nur Wahid.
“Sepanjang sejarah Reformasi selalu saja alumni Gontor menjadi pimpinan MPR. Kalau tidak ketua, adalah wakil ketua,” kata HNW.
Bagi HNW, fakta tersebut menjadi penegasan bahwa Gontor selama satu abad pertama tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga ikut mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara.
Nilai-nilai yang ditanamkan di lingkungan pesantren, seperti etika, ilmu pengetahuan, pembelajaran, dan semangat perjuangan, menurutnya perlu terus diwujudkan para alumni dalam berbagai ruang pengabdian.
Gontor, lanjut HNW, telah memberikan kontribusi melalui pendidikan yang tidak memisahkan penguasaan ilmu dengan nilai keagamaan. Prinsip tersebut dinilai relevan dengan arah pendidikan nasional sebagaimana ditegaskan dalam konstitusi.
Pendidikan, Agama, dan Arah Bangsa
Turut berperan dalam kebijakan arah pendidikan bangsa di parlemen baik di DPR maupun MPR, adalah satu upaya yang dilakukan Gontor untuk menjaga dan membingkainya, sehingga hadirlah UUD NRI Tahun 1945, yang pada Pasal 31 ayat (3) dan ayat (5), memberikan penegasan tentang akan dibawa kemana pendidikan Indonesia.
Ditegaskan HNW, pendidikan nasional tidak boleh berhenti pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan juga harus meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.
“Dasar pendidikan ini menjadi amat sangat kokoh ketika kemudian dia bisa mengoreksi upaya-upaya untuk membawa pendidikan Indonesia keluar dari jalur agama,” ujarnya.
Ia mencontohkan polemik mengenai rancangan peta jalan pendidikan nasional pada periode sebelumnya yang menurutnya sempat mengabaikan unsur agama.
Dalam konteks itu, HNW menilai konstitusi menjadi instrumen penting untuk memastikan kebijakan pendidikan tetap berada dalam koridor yang telah ditetapkan negara.
Penguatan terhadap pendidikan keagamaan juga diwujudkan melalui Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dan kemudian Undang-Undang tentang Pesantren yang disahkan pada 2019.
HNW menyebut lahirnya UU Pesantren tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah, DPR, dan para kiai pesantren. Ia juga menyoroti peran Menteri Agama saat itu, Lukman Hakim Saifuddin, yang merupakan alumni Gontor.
“Hadirlah Undang-Undang tentang Pesantren yang memberikan bingkai amat sangat kokoh dan kuat bagi pesantren dan bagi alumni-alumni pesantren,” katanya.
Dikatakan HNW, penguatan posisi pesantren melalui regulasi menjadi bagian penting dalam memastikan nilai-nilai keagamaan dan kepesantrenan tetap menjadi bagian dari pembangunan bangsa.
Gontor Menuju Abad Kedua
Memasuki usia 100 tahun, HNW berharap Gontor tidak berhenti pada pencapaian sejarah, tetapi menjadikan pengalaman satu abad pertama sebagai modal untuk memasuki abad kedua.
Ia menilai modal tersebut semakin besar dengan berkembangnya cabang-cabang Gontor, lahirnya pesantren-pesantren yang terinspirasi dari Gontor, serta kiprah para alumninya di berbagai bidang.
HNW hal tersebut akan menjadi modal besar Gontor membersamai gerak bangsa Indonesia, membersamai gerak bangsa-bangsa di dunia untuk kemudian menghadirkan tujuan daripada hadirnya al-Islam membawa kepada rahmatan lil alamin.
Dan itu akan menjadi sesuatu yang sangat mungkin dilakukan ketika basisnya adalah pendidikan pesantren, pesantren yang modern, pesantren yang terus bisa menghadirkan spirit dan sekaligus inspirasi yang tidak pernah berhenti.
Ia menilai pendidikan pesantren yang modern dapat menjadi salah satu kekuatan untuk membangun manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki semangat pengabdian. Karena itu, HNW mengaitkan penguatan pendidikan berbasis nilai keagamaan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Visi tersebut, lanjut HNW, akan lebih mungkin diwujudkan apabila arah pendidikan nasional benar-benar dijalankan sesuai amanat konstitusi dan UU Pesantren.
“Kita akan bisa menuju Indonesia Emas 2045 ketika kemudian tujuan pendidikan nasional dan Undang-Undang tentang Pesantren diwujudkan dengan sebenar-benarnya,” tegasnya.
HNW juga menyampaikan apresiasi kepada para kiai dan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang selama satu abad dinilai konsisten menjaga dan mengembangkan lembaga pendidikan tersebut.
Ia mengajak seluruh keluarga besar Gontor memandang peringatan satu abad bukan sebagai titik akhir, melainkan momentum untuk melanjutkan perjuangan pada abad kedua.
Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dijadwalkan berlangsung pada 19–20 September 2026 di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.
HNW berharap Gontor senantiasa menjadi pusat pendidikan yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan mampu berkontribusi bagi bangsa serta dunia.
“Terima kasih yang luar biasa, yang sangat mendalam kepada para kiai kita, para pimpinan kita Pondok Modern Darussalam Gontor yang telah bukan hanya menghadirkan, tapi menjaga, mengembangkan, sehingga kita semuanya pada malam hari ini bisa berada di sini untuk kemudian melanjutkan perjuangan di abad kedua daripada Pondok Modern Darussalam Gontor,” pungkasnya.
Kegiatan Malam Peradaban yang mengusung tema "Seratus Tahun Mendidik, Membangun Peradaban" ini berlangsung khidmat dan lancar.
Hadir dalam acara, Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan K.H. M. Akrim Mariyat, bersama seluruh jajaran Anggota Badan Wakaf PMDG, para Duta Besar negara sahabat antara lain dari Kuwait, Palestina, Turki, Tunisia, Sudan, dan Para peserta Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026, berlangsung khidmat dan lancar. Turut hadir Plt Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah dan tamu undangan lainnya.
Senin, 07/09/2026 23:02 WIB