https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Taliban Buka Pintu Investasi untuk AS di Sektor Tambang

Muhammad Habib Saifullah | Selasa, 01/09/2026 20:01 WIB



Kelompok Taliban mengisyaratkan keterbukaan mereka terhadap investasi Amerika Serikat di sektor pertambangan hingga infrastruktur Tentara Taliban berjaga-jaga pada upacara peringatan dua tahun pengambilalihan Kabul oleh Taliban di Kabul, Afghanistan, 15 Agustus 2023. (Foto: REUTERS)

Jakarta, Jurnas.com - Kelompok Taliban mengisyaratkan keterbukaan mereka terhadap investasi Amerika Serikat di sektor pertambangan, infrastruktur, pertanian, dan perdagangan Afghanistan sebagai bagian dari upaya memulihkan hubungan antara Kabul dan Washington.

Menteri Luar Negeri Pjs Amir Khan Muttaqi menyatakan kepada Financial Times bahwa Taliban "sama sekali tidak keberatan" dan menyambut baik investasi AS, seraya menambahkan: "Hubungan antara Afghanistan dan AS tidak boleh dinilai dari kacamata perang 20 tahun terakhir, melainkan atas dasar kerja sama di masa depan."

Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Muttaqi tersebut. Pada periode pertamanya, Presiden AS Donald Trump pernah menyebutkan bahwa ia mempertimbangkan pengaturan untuk memanfaatkan kekayaan mineral Afghanistan agar Taliban membayar biaya perang dan rekonstruksi Washington, yang menghabiskan 117 miliar dolar AS hingga tahun 2017.

Baca juga :
Taliban Putuskan Internet Afghanistan, Layanan Penerbangan dan Perbankan Terganggu

Afghanistan memiliki cadangan deposit mineral yang nilainya ditaksir lebih dari 1 triliun dolar AS, menurut studi yang dirilis oleh Survei Geologi AS (USGS).

Kandungan bumi negara tersebut menyimpan deposit emas, perak, dan platina dalam jumlah besar, serta bijih besi, uranium, seng, tantal, boksit, batu bara, gas alam, dan tembaga.

Baca juga :
Elizabeth Runtu Tekankan Investasi Asing Harus Dibarengi Kepastian Regulasi

Kebijakan ekonomi Taliban "terbuka," kata Muttaqi, seraya menekankan penawaran kelompok tersebut kepada masyarakat internasional dalam mengupayakan pengakuan resmi lima tahun setelah merebut kembali kendali atas Afghanistan.

Terlepas dari jaminan Taliban bahwa kembalinya mereka ke kekuasaan akan mencakup liberalisasi kebijakan, mereka justru memberlakukan pembatasan ketat terhadap perempuan dan anak perempuan, termasuk melarang 2,5 juta dari mereka untuk mengenyam pendidikan di sekolah menengah dan perguruan tinggi, serta membatasi kebebasan bergerak mereka.

Baca juga :
Taliban Melarang Pelapor Khusus Hak Asasi Manusia PBB Masuki Afghanistan

Sejak merebut kembali kekuasaan pada tahun 2021, pemerintah Taliban baru diakui secara resmi oleh Rusia.

Negara-negara lain seperti China, Pakistan, India, dan Iran telah menawarkan perjanjian perdagangan dan investasi bilateral kepada para pemimpin di Afghanistan sebagai imbalan atas jaminan keamanan.

Namun, AS tetap menjaga jarak dari Taliban, kecuali saat meminta pengembalian peralatan militer Amerika yang tertinggal setelah perang berakhir.

Muttaqi menolak permintaan AS tersebut. "Seluruh fasilitas militer dan sipil di Afghanistan, termasuk Bagram, adalah aset nasional Afghanistan," tegasnya, seraya menambahkan bahwa AS bagaimanapun dapat membuka kembali kedutaan besarnya di Kabul.

Taliban telah "menjamin keamanannya... membangun kembali jalan dan menanam pepohonan baru," ujarnya, sembari menyebut bahwa lokasi tersebut kini "sangat hidup dan menarik."

Sumber: Arabnews

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Taliban Afghanistan Investasi AS AS Afghanistan

Humanika

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777