https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: 560 Juta Anak di Dunia Kini Menghadapi Panas Berbahaya

Agus Mughni | Sabtu, 29/08/2026 09:20 WIB



Perubahan iklim bahkan hampir melipatgandakan jumlah anak yang mengalami sedikitnya lima bulan paparan heat stress setiap tahun Seorang anak laki-laki mendinginkan diri di air mancur di Budapest, Hongaria, saat gelombang panas pada 26 Agustus 2023 (FOTO: AP PHOTO)

Jakarta, Jurnas.com - Sebanyak 560 juta anak berusia di bawah 10 tahun, atau sekitar 43 persen dari seluruh anak dalam kelompok usia tersebut di dunia, kini menghadapi sedikitnya satu bulan tambahan paparan panas berbahaya setiap tahun akibat perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia.

Studi yang dipimpin peneliti dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) itu menunjukkan beban panas semakin tidak merata antar-generasi. Anak-anak menghadapi paparan panas berbahaya hampir tiga kali lebih besar dibandingkan kelompok usia 60–69 tahun.

Dikutip dari Earth, penelitian tersebut menjadi analisis pertama yang menghitung paparan panas akibat perubahan iklim berdasarkan kelompok usia. Peneliti menggabungkan data populasi global, model iklim, serta metode atribusi iklim untuk memperkirakan seberapa besar perubahan iklim berkontribusi terhadap peningkatan paparan panas.

Baca juga :
Gelombang Panas Eropa Tewaskan Sedikitnya 35.000 Orang

Risiko panas bagi anak tidak hanya ditentukan oleh suhu lingkungan. Tubuh anak lebih cepat mengalami peningkatan suhu dibandingkan orang dewasa dan kemampuan berkeringat untuk mendinginkan tubuh juga belum seefisien orang dewasa.

Anak-anak juga sangat bergantung pada orang dewasa untuk menghindari panas, mulai dari mencari tempat teduh, memastikan asupan cairan, hingga mengenali tanda-tanda bahaya akibat suhu tinggi.

Baca juga :
Studi: Pohon Pegunungan Bergerak Berlawanan Saat Bumi Makin Panas

Perubahan iklim bahkan hampir melipatgandakan jumlah anak yang mengalami sedikitnya lima bulan paparan heat stress setiap tahun. Jumlahnya meningkat dari sekitar 120 juta anak dalam kondisi tanpa pengaruh perubahan iklim menjadi 350 juta anak saat ini.

Sebagai pembanding, sekitar 120 juta orang berusia 60–69 tahun menghadapi tingkat paparan panas yang sama.

Baca juga :
Laut Dunia Cetak Rekor Suhu Tertinggi, Agustus Justru Makin Panas

Peningkatan paparan panas tidak terjadi secara merata. Wilayah tropis dan negara-negara berpendapatan lebih rendah mengalami peningkatan yang paling tajam.

Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Barat menjadi kawasan dengan jumlah anak yang saat ini paling banyak menghadapi heat stress berbahaya.

Kondisi tersebut semakin berat karena banyak negara dengan paparan tinggi memiliki populasi yang relatif muda. Anak-anak dalam jumlah besar akhirnya berada di wilayah yang menghadapi peningkatan risiko panas.

Peneliti juga menyoroti ketimpangan tanggung jawab perubahan iklim. Negara-negara yang menghadapi paparan paling tinggi umumnya bukan negara yang paling besar menyumbang emisi gas rumah kaca secara historis.

“Perubahan iklim saat ini telah menyebabkan ratusan juta anak mengalami panas berbahaya di seluruh dunia, yang menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mereka,” kata Rosa Pietroiusti, peneliti doktoral VUB sekaligus penulis utama studi.

Menurutnya, anak-anak di negara berkembang menghadapi paparan ekstrem yang tidak proporsional, sementara kemiskinan, kualitas hunian yang buruk, keterbatasan akses pendinginan dan sistem kesehatan yang terbebani membuat perlindungan dari panas semakin sulit.

Penelitian ini secara khusus melihat panas lembap. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kelembapan tinggi menghambat kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui keringat.

Jika berlangsung ekstrem, panas dapat mengganggu fungsi normal tubuh dan meningkatkan risiko dehidrasi hingga heatstroke. Kondisi panas berlebihan juga dapat memperburuk masalah kesehatan yang sudah ada.

Dampaknya bagi anak tidak berhenti pada kesehatan fisik. Paparan panas juga dikaitkan dengan gangguan proses belajar dan perkembangan kognitif. Paparan panas diproyeksikan semakin luas seiring meningkatnya pemanasan global.

Dalam skenario pemanasan 1,5 derajat Celsius, sekitar 620 juta anak atau 49 persen anak berusia 0–9 tahun diperkirakan menghadapi sedikitnya satu bulan tambahan heat stress setiap tahun. Sekitar 390 juta anak akan mengalami paparan selama sedikitnya lima bulan.

Jika pemanasan mencapai 2 derajat Celsius, jumlah anak yang menghadapi sedikitnya satu bulan heat stress meningkat menjadi sekitar 650 juta atau 59 persen dari kelompok usia tersebut. Sekitar 420 juta anak diperkirakan mengalami heat stress selama sedikitnya lima bulan dalam setahun.

Peneliti menekankan bahwa kedua tingkat pemanasan tersebut sangat mungkin terlampaui jika kebijakan pemerintah saat ini tidak berubah secara signifikan.

Wim Thiery, profesor VUB sekaligus penulis senior penelitian, mengatakan perlindungan terhadap generasi muda membutuhkan dua langkah sekaligus, yakni pengurangan emisi dan peningkatan kemampuan beradaptasi terhadap panas.

“Untuk melindungi generasi mendatang, pembuat kebijakan harus segera dan drastis mengurangi emisi bahan bakar fosil serta membatasi pemanasan sesuai dengan Perjanjian Paris,” ujar Thiery.

Ia juga menilai negara berkembang membutuhkan peningkatan pendanaan iklim serta langkah adaptasi yang lebih terarah, termasuk rencana aksi menghadapi panas dan penguatan sistem kesehatan masyarakat.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances ini menunjukkan bahwa panas ekstrem bukan hanya persoalan cuaca, tetapi juga persoalan ketimpangan antargenerasi. Anak-anak yang paling sedikit bertanggung jawab atas perubahan iklim justru menghadapi salah satu beban risikonya yang terus meningkat. (*)

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Panas Ekstrem Panas Berbahaya Perubahan Iklim

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777