Rabu, 26/08/2026 10:00 WIB

Gelombang Panas Eropa Tewaskan Sedikitnya 35.000 Orang





Sedikitnya 35.000 orang lebih banyak dari perkiraan meninggal selama empat gelombang panas berturut-turut yang melanda sejumlah wilayah Eropa pada musim panas

Ilustrasi cuaca panas ekstrem. (Foto: VOI)

Jakarta, Jurnas.com - Gelombang panas yang melanda Eropa sepanjang musim panas 2026 diperkirakan telah menyebabkan sedikitnya 35.000 kematian berlebih. Angka tersebut masih bersifat sementara karena data dari sejumlah negara belum sepenuhnya tersedia.

Sedikitnya 35.000 orang lebih banyak dari perkiraan meninggal selama empat gelombang panas berturut-turut yang melanda sejumlah wilayah Eropa pada musim panas ini.

Dikutip dari Anadolu, data tersebut mencakup sekitar separuh wilayah Eropa. Para ahli memperkirakan jumlah korban masih akan meningkat setelah data kematian sepanjang Agustus selesai dihimpun.

Jerman, Prancis, dan Spanyol menjadi tiga negara dengan angka kematian berlebih terbesar, dengan total lebih dari 25.000 kasus.

Jerman mencatat angka tertinggi dengan perkiraan sekitar 14.000 kematian terkait panas pada periode 6 April hingga 9 Agustus.

Robert Koch Institute memperkirakan sekitar 9.600 orang meninggal hanya dalam satu pekan pada akhir Juni, ketika suhu di 46 stasiun cuaca mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.

Spanyol juga mencatat dampak besar. Sistem pemantauan kematian negara tersebut mencatat 4.947 kematian yang dikaitkan dengan panas sejak Mei.

Angka itu bahkan telah melampaui rekor tahunan sebelumnya yang tercatat pada 2022 dengan 4.520 kematian.

Sementara itu, Prancis melaporkan sekitar 7.300 kematian berlebih antara akhir Mei hingga 22 Juli. Angka tersebut mencakup kematian dari berbagai penyebab dan masih didasarkan pada sekitar 80 persen data kematian.

Dampak gelombang panas juga terlihat di sejumlah negara Eropa lainnya.

Inggris mencatat 2.877 kematian terkait panas selama gelombang panas pada Mei dan Juni. Belgia melaporkan 1.222 kematian berlebih antara 18 dan 29 Juni.

Di Belanda, sedikitnya 900 orang lebih banyak dari kondisi normal meninggal pada periode 22 Juni hingga 5 Juli.

Sementara itu, pemodelan memperkirakan sekitar 1.070 kematian berlebih di Polandia dan sekitar 220 kematian di Swiss selama gelombang panas pada akhir Juni.

Angka-angka tersebut belum menggambarkan keseluruhan dampak musim panas 2026 karena proses pencatatan dan analisis kematian masih berlangsung di sejumlah negara.

Dampak gelombang panas juga tidak selalu terlihat langsung dalam data kematian.

Suhu ekstrem dapat memperburuk penyakit yang sudah diderita seseorang, terutama gangguan kardiovaskular dan pernapasan. Karena itu, panas sering kali tidak tercatat sebagai penyebab langsung kematian meskipun berperan dalam memperburuk kondisi korban.

Kelompok lanjut usia, orang dengan penyakit kronis, serta mereka yang memiliki keterbatasan dalam menghadapi suhu ekstrem menjadi kelompok yang sangat rentan.

Para ilmuwan menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas ekstrem semakin sering dan intens.

Namun, angka final korban gelombang panas Eropa 2026 belum dapat dipastikan. Data kematian dari sejumlah wilayah masih harus dikumpulkan dan dianalisis, sehingga gambaran lengkap dampaknya kemungkinan baru tersedia dalam beberapa pekan atau bulan mendatang. (*)

Sumber: Anadolu

KEYWORD :

Gelombang Panas Suhu Eropa Panas Ekstrem Cuaca Panas




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :