Presiden Prabowo Subianto dan Jokowi
Jakarta, Jurnas.com - Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie terkait percepatan Pemilu 2029 dinilai sebagai bentuk deklarasi kesiapan kubu Jokowi jika harus berpisah dengan Presiden Prabowo Subianto di Pilpres 2029.
Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti, Jakarta, Jumat (28/8). Menurutnya, potongan video pernyataan Budi Arie terkait percepatan Pemilu 2029 tersebut paling substantif dan berbahaya di tengah perpolitikan nasional saat ini.
“Mungkin video itu panjang, tapi kenapa potongan video itu yang menyebar ke publik. Kalau menurut saya ini semacam deklarasi, pra deklarasi Pak Jokowi menyatakan siap jika harus berpisah dengan Pak Prabowo tahun 2029 yang akan datang,” kata Ray Rangkuti.
Bahkan, kata Ray Rangkuti, soft deklarasi tersebut sebagai bukti bahwa kubu Jokowi telah mengantongi sejumlah amunisi untuk kembali mengusung Gibran Rakabuming Raka untuk maju di Pilpres 2029 mendatang.
“Karena mereka punya amunisi itulah mereka menganggap ini mungkin saatnya deklarasi meskipun masih soft deklarasi terhadap kekuasaan dalam hal ini Pak Prabowo bahwa kami ini siap berpisah. Karena sebelum-sebelumnya dikesankan pihak Pak Jokowi lah yang terus-menerus yang menginginkan supaya Pak Prabowo menggandeng Gibran,” terang Ray Rangkuti.
“Dengan beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini, mungkin muncul semacam kepercayaan diri di lingkaran kelompoknya Pak Jokowi bahwa kalaupun misalnya Pak Prabowo pada akhirnya meninggalkan Gibran, kami juga sudah siap jalan sendiri, nah ini semacam soft deklarasi itu,” lanjutnya.
Menurutnya, munculnya kepercayaan diri kubu Jokowi untuk berpisah dengan Prabowo Subianto adalah keluarnya sejumlah survei yang menyatakan popularitas dan kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto mengalami penurunan secara drastis hingga dibawah 50 persen.
“Dari mana kepercayaan diri itu muncul, pertama tentu dari tiga survei. Dua survei yang sudah dibuka dan satu survei yang keluar tidak diakui datangnya dari siapa tapi tidak dibantah isinya yang menyatakan tingkap popularitas dan kepuasan kepada Pak Prabowo turun, bahkan disurvei terakhir itu sudah dibawah 50 persen, artinya kalau Pak Prabowo tidak cepat-cepat bakal ditinggal di 2029,” tegas Ray Rangkuti.
Sebelumnya, dalam postingan Instagram ott_onthetrack, Budi Arie bersama Jokowi berbicara mengenai kemungkinan momentum politik dan pemilu berlangsung lebih cepat. Pernyataan tersebut pun menjadi perhatian publik dan memunculkan berbagai spekulasi mengenai arah politik nasional.
“Potensi itu bukan ngga ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dari kondisi ekonomi yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy,” kata Budi Arie dalam video yang viral di media sosial.
Sabtu, 29/08/2026 13:51 WIB