https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kisah Inspiratif Asep dan 21 Tahun Perubahan Lapas Garut

Mutiul Alim | Senin, 24/08/2026 16:27 WIB



21 tahun berkarier dari balik lembaga permasyaratan (Lapas) Kelas IIA Garut bukan menjadi perjalanan yang singkat bagi Asep Supriatna. Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Garut, Asep Supriatna bersama warga binaan lapas (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - 21 tahun berkarier dari balik lembaga permasyaratan (Lapas) Kelas IIA Garut bukan menjadi perjalanan yang singkat bagi Asep Supriatna. Sejak masuk sebagai petugas pada 2005 dengan bekal pendidikan keperawatan. Saat itu, pekerjaan pertamanya adalah menjadi perawat bagi warga binaan atau narapidana.

Dua dekade berlalu, Asep kini menjabat Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Garut. Dia menceritakan berbagai perubahan di dalam lapas, mulai dari pelayanan kesehatan, pola pembinaan hingga pola pikir petugas lapas dalam menyikapi napi.

Asep mengatakan pada masa awalnya bertugas, pemasyarakatan masih lebih banyak berfokus pada pengamanan. Pembinaan sudah ada, tetapi menurutnya lebih menonjol pada pembinaan kepribadian.

Baca juga :
Sebanyak 5.931 Napi di Sulsel Dapat Remisi Lebaran

"Yang saya tahu pemasyarakatan saat itu hanya berfokusnya pada pengamanan warga binaan saja. Meskipun sisi pembinaannya ada, tapi lebih menonjol itu di bidang pembinaan kepribadiannya. Kalau untuk kemandiriannya seperti sekarang tidak terlalu menonjol," kata Asep saat ditemui di Lapas Garut, Jawa Barat (Jabar) pada Rabu (19/8/2026).

Perubahan mulai dirasakan Asep sekitar 2010. Ketika itu, dia masih bertugas di bidang kesehatan. Menurut Asep, adanya nota kesepahaman antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Sosial terkait pelayanan kesehatan di lapas membuat layanan kesehatan bagi napi semakin baik.

Baca juga :
Megawati: Pelindungan Kekayaan Intelektual Penting untuk Indonesia Emas 2024

"Sebelum 2010 kekurangan SDM, kekurangan sarana prasarana sehingga pelayanan kesehatan di lembaga itu menurut saya sangat kurang. Pada saat itu kecepatan bertindak pun kita agak terlambat karena dokternya hanya bantuan dari puskesmas," ujar dia.

Setelah kerja sama tersebut berjalan, kata Asep, mulai tersedia perawat kesehatan definitif. Warga binaan yang membutuhkan perawatan lanjutan juga lebih mudah mendapatkan layanan rumah sakit, termasuk dari sisi administrasi pembiayaan.

Baca juga :
Kemenkumham Beri Remisi 134.430 Napi

"Kalau ada pasien yang perlu perawatan lanjut di rumah sakit, dalam hal administrasi alhamdulillah pelayanan semua bisa gratis," ujar Asep. Lapas Garut kemudian memiliki dokter sendiri sekitar 2022.

Peternakan Ayam hingga 24 Macam Pekerjaan

Keterlibatan pihak ketiga dalam kegiatan kemandirian di Lapas Garut mulai terlihat pada 2019. Menurut Asep, ketika itu terdapat kerja sama lapas dengan pihak swasta untuk memberdayakan napi di peternakan ayam pedaging dengan kapasitas sekitar 14.000 ekor. Namun jumlah warga binaan yang dapat terlibat masih sedikit.

"Dulu kandang ayam hanya menyerap tenaga kerja napi nol koma sekian persen karena tenaga kerja kita hanya tiga orang, paling banyak pun lima orang. Sedangkan jumlah napi sekitar 500 orang," ungkap Asep.

Kegiatan kemandirian lainnya juga belum memiliki pasar yang berkelanjutan. Untuk produk kerajinan tangan, misalnya, produksi banyak bergantung pada pesanan.

Sampai sebelum Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto dilantik, menurut Asep, belum terdapat penambahan signifikan kegiatan pemberdayaan kemandirian di Lapas Garut. Namun jondisinya kini disebut berubah.

Asep mengatakan lebih dari 30 persen warga binaan kini terserap dalam kegiatan kerja. Sementara warga binaan lainnya mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari kebersihan, pembinaan kepribadian, kepramukaan hingga pesantren.

Lapas Garut saat ini memiliki 24 kegiatan kemandirian. Asep menyebut hampir seluruh kegiatan tersebut sudah menghasilkan untuk napi dari sisi ekonomi.

"Kalau ada peralihan Kemenkumham ke Imipas yang saya sangat rasakan itu peningkatan pembinaan kegiatan kerja. Karena apa yang diprogramkan saat ini sangat berpengaruh sekali," ujar Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Garut tersebut.

Cerita Residivis yang Memilih Kembali ke Lapas

Dari berbagai perubahan yang disaksikannya, Asep melihat satu persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dari balik tembok lapas yaitu penerimaan masyarakat ketika warga binaan kembali ke lingkungan asal. Menurut Asep, stigma terhadap eks napi masih kuat.

"Kalau boleh saya bilang cara berpikir masyarakat itu masih menganggap warga binaan itu orang jahat, dan menstigma mereka masih jelek," lirihnya sambil tersenyum getir.

Asep mengaku pernah mendengar cerita mantan napi yang baru bebas dan kembali ke kampung halaman. Ketika terjadi pencurian di lingkungan sekitarnya, napi tersebut langsung dicurigai padahal bukan dia pelakunya.

Asep bahkan pernah bertanya kepada seorang residivis mengapa kembali melakukan tindak pidana setelah bebas. Menurut Asep, ada mantan napi yang pada akhirnya menjadi residivis untuk kembali ke lingkungan lapas yang dianggap lebih menerima dirinya.

"Jawaban mereka, ya mereka lebih nyaman dengan yang menerima, bukan sifatnya menceramahi. Harapan saya itu ada wadah kerja untuk mereka setelah pulang dari sini," kata Asep.

Asep menilai keberadaan pekerjaan dan lingkungan yang menerima mantan napi penting agar manfaat dari keterampilan yang telah diperoleh selama di lapas benar-benar terasa. Pun, lanjut Asep, napi tak buntu arah.

"Saya yakin mereka punya hati yang bersih dan pasti punya sisi yang buruk juga. Mungkin jika ada wadah di luar yang bisa menyalurkan bakat mereka, seolah masuk ke komunitasnya, mungkin mereka akan merasa nyaman kembali," katanya.

Berharap Banyak Pihak `Masuk` Lapas

Setelah 21 tahun bekerja, Asep masih melihat sejumlah pekerjaan yang perlu dilakukan, salah satunya pendidikan. Asep menjelaskan masih banyak warga binaan Lapas Garut yang memiliki tingkat pendidikan rendah.

Ia berharap pemerintah daerah, instansi pendidikan, hingga organisasi sosial ikut terlibat dalam pembinaan. Asep menekankan napi juga tetap mempunyai hak terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan dan keterampilan meski sedang menjalani pidana.

"Karena kita juga memerlukan dukungan dari pihak eksternal, juga pihak internal. Karena warga binaan semuanya punya hak yang sama dengan yang tidak dipenjara: hak pendidikan, kesehatan dan keterampilannya," Asep menekankan.

Bagi Asep, persoalan yang membawa seseorang masuk penjara juga tidak bisa dilihat hanya dari jenis tindak pidananya. Ia melihat ada persoalan yang lebih kompleks di belakangnya, mulai dari pendidikan agama, lingkungan sosial hingga ekonomi.

"Saya selalu mengatakan bukan narkoba atau pencurian yang membuat mereka masuk ke sini, tapi karena pondasi agamanya kurang. Selain agama, yang mengantarkan mereka ke sini adalah faktor sosialnya tidak bagus dan ekonominya kurang," pungkas Asep.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Asep Supriatna Lapas Kelas IIA Garut Kementerian Hukum dan HAM

Humanika

Minggu, 23/08/2026 17:05 WIB

Ini Panduan Menjawab Azan dan Doa Setelahnya

Minggu, 23/08/2026 16:05 WIB

Apa Surah Terpanjang dalam Al-Qur`an?

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777